Regional

Sosok Kartini dari Gunung Lewotobi, Oca Berjuang Lawan Stunting dengan Honor Rp300.000

Advertisement

FLORES TIMUR, KOMPAS.com — Di tengah situasi pasca-erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih membayangi Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rosalia Dua Onan (36) tak gentar melanjutkan pengabdiannya sebagai kader desa. Ia memegang teguh tanggung jawabnya dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar, terutama bagi bayi dan balita, meski hidupnya tak lepas dari perjuangan berat.

Perempuan yang akrab disapa Oca ini, seorang ibu dengan empat anak, tengah berjuang keras agar buah hatinya dapat terus mengenyam pendidikan. “Saya punya empat anak, satu kuliah, dua SMA, dan satu SD. Saya dan suami sama-sama berjuang agar anak-anak tetap sekolah. Suami saya merantau di Kalimantan,” ungkap Oca kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Dedikasi Oca sebagai kader desa di Hokeng Jaya telah terjalin selama 15 tahun. Desa ini sendiri berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Gunung Lewotobi Laki-laki, menjadikannya salah satu wilayah yang merasakan langsung dampak erupsi yang terjadi beberapa tahun lalu. Bencana alam tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat penampungan sementara, termasuk kesulitan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Peran Vital Kader di Tengah Keterbatasan

Sebagai kader desa, Oca memiliki tugas krusial memantau tumbuh kembang anak-anak, khususnya bayi dan balita. Ia rutin melakukan penimbangan bulanan untuk mendeteksi dini masalah gizi. “Kalau dua bulan berturut-turut berat badannya turun, kami jadwalkan kunjungan rumah untuk pendampingan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Oca juga proaktif mendatangi rumah balita yang terindikasi mengalami stunting atau kekurangan gizi. Upayanya ini merupakan garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan masalah gizi di desanya.

Insentif Minim, Pengabdian Tak Terhenti

Namun, peran vital Oca dan kader desa lainnya kerap kali dibayangi minimnya insentif yang diterima. “Insentif Rp 300.000 per bulan, kadang kami terima empat sampai lima bulan sekali,” keluh Oca.

Advertisement

Jumlah insentif yang tidak menentu dan terbilang kecil ini tentu saja tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Untuk menyiasatinya, Oca tak ragu mencari sumber pendapatan tambahan. Ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas dan organisasi non-pemerintah (NGO).

“Kadang kami ikut kegiatan sampai di Ende, Ngada, dan Labuan Bajo. Lumayan untuk tambah-tambah penghasilan,” tuturnya.

Harapan untuk Masa Depan Anak

Di tengah segala keterbatasan dan tantangan yang dihadapi, harapan terbesar Oca tertuju pada masa depan anak-anaknya. Ia berjuang tak kenal lelah agar pendidikan anak-anaknya dapat terus berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi.

“Sebagai orang tua kami berharap pemerintah bisa beri perhatian untuk anak-anak kami. Semoga mereka bisa sekolah sampai kuliah,” pungkasnya, menyuarakan aspirasi banyak orang tua di daerahnya yang menginginkan masa depan lebih baik bagi generasi penerus.

Advertisement