JEMBER, Kompas.com – Di tengah ancaman gagal panen yang menghantui petani Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, akibat dugaan pencemaran limbah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari, sosok ulu-ulu atau petugas pengatur air irigasi turut merasakan imbasnya. Ihsan, ulu-ulu Desa Kertosari, mengungkapkan bahwa penghasilannya merosot drastis seiring menurunnya produktivitas sawah petani.
Padahal, Ihsan tetap menjalankan tugasnya setiap hari, mulai dari membersihkan saluran irigasi, mengatur aliran air, hingga memastikan kebutuhan air para petani terpenuhi. “Kerja tetap setiap hari. Bersih-bersih saluran, ngatur air. Tapi kalau petaninya enggak panen, saya juga enggak dapat apa-apa,” ujar Ihsan kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Berbeda dengan pekerja bergaji tetap, upah ulu-ulu sangat bergantung pada hasil panen petani. Penghasilan mereka biasanya berupa sebagian hasil panen atau pemberian sukarela dari petani setelah panen. Ketika petani gagal panen, otomatis pendapatan ulu-ulu pun hilang.
“Saya nunggu empat bulan, pas panen. Kalau enggak panen ya sudah, kerja terus tapi enggak ada bayaran,” tuturnya sambil tersenyum.
Mayoritas petani di Desa Kertosari, khususnya yang berada di Dusun Lamparan yang berbatasan langsung dengan TPA, menanam komoditas padi. Kondisi ini membuat mereka sangat bergantung pada pasokan air irigasi yang lancar dan bersih.
Irigasi Rusak, Ulu-ulu Berjuang Sendiri
Sebagai ulu-ulu, Ihsan bertanggung jawab mengelola irigasi untuk sekitar 60 hektare lahan pertanian di Desa Kertosari. Namun, tugasnya semakin berat dalam beberapa tahun terakhir akibat kerusakan dan pencemaran pada saluran irigasi.
Kerusakan terparah terjadi di Dusun Lamparan, yang keluhannya telah disampaikan petani sejak beberapa tahun lalu. Ihsan menjelaskan bahwa sejak 2020, aliran air irigasi mulai terganggu akibat longsoran sampah dari TPA yang menutup saluran.
“Sekarang sudah parah. Air enggak bisa lewat karena tertutup longsoran sampah. Yang dekat TPA itu paling parah,” katanya.
Tak jarang, Ihsan harus turun tangan langsung membersihkan sampah yang menyumbat saluran. Ia berupaya keras agar aliran air tetap mengalir ke sawah, meskipun kualitas airnya sudah menurun drastis. Ia bahkan berusaha agar air tetap mengalir ke hilir dengan harapan pencemaran dapat sedikit berkurang karena terbawa arus.
“Kalau dulu masih bisa dibersihkan, sekarang sudah enggak bisa. Sampahnya dari atas longsor terus, nutup saluran,” keluhnya.
Pantauan Kompas.com di lapangan menunjukkan adanya rembesan air berwarna hitam pekat dan berbau busuk dari lahan TPA yang mengalir langsung ke saluran irigasi petani.
Bekerja Tanpa Henti, Hasil Tak Pasti
Dalam kondisi normal, Ihsan bekerja dari pagi hingga sore. Namun, saat musim kemarau atau ketika aliran air bermasalah, ia harus siaga hampir sepanjang hari.
“Mulai jam 07.00 sampai malam. Apalagi kalau airnya enggak jalan, ya harus terus dipantau,” ujarnya.
Usahanya kini terasa semakin berat karena hasil yang didapat tidak lagi sebanding. Banyak lahan yang gagal panen, bahkan ada tanaman padi yang mati sejak awal tanam. Kondisi ini membuat pemasukan Ihsan semakin tidak menentu.
Dari sekitar 60 hektare lahan yang dikelolanya, hanya sebagian kecil yang masih bisa menghasilkan. Sebagian besar lahan terdampak pencemaran, terutama yang berdekatan dengan TPA.
“Kalau yang parah itu banyak yang mati semua. Yang agak jauh (sawahnya dari TPA) masih ada yang ngasih (upah), tapi sedikit,” ungkapnya.
Menjadi Tempat Curhat, Tanpa Kewenangan
Ihsan mengaku seringkali menjadi tempat petani mengadu terkait kondisi irigasi. Namun, ia sendiri tidak memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan besar.
Ia hanya bisa menyampaikan keluhan tersebut ke tingkat desa, sembari terus berupaya menjaga aliran air tetap berjalan. “Petani ngadu ke saya, tapi saya juga bingung. Ini kan urusannya sudah besar, harusnya pemerintah yang menangani,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi irigasi yang terus memburuk menunjukkan perlunya penanganan serius dari pihak terkait, khususnya pengelola TPA. “Setiap tahun semakin parah, longsor terus. Tapi belum ada perbaikan yang nyata,” keluhnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Ihsan tetap menjalankan tugasnya. Baginya, menjaga aliran irigasi tetap hidup adalah satu-satunya cara agar sawah petani tidak benar-benar mati.






