Global

AS Pernah Pindahkan Uranium Uni Soviet, tapi Kasus Iran Jauh Lebih Rumit

Advertisement

WASHINGTON – Amerika Serikat menghadapi tantangan logistik dan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam upayanya mengamankan material nuklir Iran. Meskipun AS memiliki rekam jejak dalam memindahkan uranium bekas Uni Soviet, operasi di Iran dipandang sebagai yang paling rumit.

Fokus utama kekhawatiran global tertuju pada persediaan uranium Iran yang diklaim telah diperkaya hingga 60 persen. Material ini hanya membutuhkan sedikit langkah lagi untuk mencapai tingkat 90 persen, atau weapon-grade, yang dapat digunakan sebagai inti bom nuklir. Sebagian besar uranium ini diyakini tersimpan di fasilitas Isfahan dan Natanz.

Namun, serangan udara dan rudal pada Juni lalu dilaporkan telah menghancurkan sebagian besar fasilitas nuklir utama Iran. Kondisi ini membuat material sensitif tersebut terjebak di bawah reruntuhan beton dan besi selama hampir setahun, di lokasi yang belum pernah dikunjungi inspektur internasional.

Operasi Pemindahan Uranium Paling Kompleks

Para pakar keamanan menyebutkan bahwa ini berpotensi menjadi operasi pemindahan uranium paling kompleks dalam sejarah manusia. “Ada banyak ketidakpastian karena serangan AS pada bulan Juni, persyaratan logistik, risiko keamanan, dan ketegangan kebijakan luar negeri,” kata Andrew Weber, seorang peneliti senior di Council on Strategic Risks dan mantan pejabat Pentagon yang terlibat dalam operasi pemindahan sebelumnya.

Ketidakpastian mengenai integritas kontainer penyimpanan, ditambah dengan tingginya tensi politik antara Washington dan Teheran, menciptakan labirin logistik yang sulit ditembus. Sebelum konflik memanas, Teheran sempat memperkuat pintu masuk fasilitas tersebut. Namun, gempuran rudal justru memperdalam titik masuk dan berpotensi mengubur silinder-silinder uranium di bawah ribuan ton puing.

Pemerintahan Donald Trump, yang dikabarkan akan melanjutkan pembicaraan minggu ini, bersikeras bahwa uranium tersebut harus disingkirkan dari wilayah Iran. Sebagai insentif, muncul laporan bahwa Washington bersedia mencairkan dana luar negeri Iran senilai 20 miliar dollar AS yang selama ini dibekukan.

Meskipun demikian, Teheran memberikan sinyal yang kontradiktif. Di satu sisi, mereka menawarkan pengenceran uranium, namun di sisi lain membantah klaim bahwa mereka telah setuju untuk menyerahkan seluruh persediaan tersebut ke pihak asing.

Pengalaman Proyek Sapphire

Meskipun tantangan di Iran terlihat mustahil, AS sebenarnya memiliki pengalaman dari operasi-operasi rahasia di masa lalu. Referensi paling utama adalah Proyek Sapphire pada 1994, di mana Washington berhasil mengangkut 600 kilogram uranium dari sebuah pabrik di Kazakhstan yang terbengkalai setelah runtuhnya Uni Soviet.

Advertisement

Operasi tersebut dilakukan dalam kerahasiaan tinggi. Tim ahli menghabiskan lebih dari satu bulan untuk mengemas ulang material berbahaya tersebut ke dalam ratusan kontainer khusus. Proses pengirimannya menggunakan dua pesawat angkut raksasa C-5 yang harus melakukan pengisian bahan bakar di udara sebanyak tiga kali agar tidak perlu mendarat di negara ketiga. Tujuannya adalah memastikan muatan nuklir tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah sebelum tiba di Laboratorium Nasional Oak Ridge, Tennessee.

Pengalaman serupa juga terjadi di Georgia pada 1998, ketika AS dan Inggris bekerja sama mengevakuasi uranium dari reaktor penelitian Soviet. Dari rangkaian keberhasilan inilah, Departemen Energi AS membentuk “program pengemasan bergerak” yang siap diterjunkan ke titik-titik panas di seluruh dunia, lengkap dengan peralatan sinar-X, timbangan digital presisi, hingga kotak sarung tangan pelindung untuk menangani material radioaktif.

Kasus Iran Berbeda

Namun, apa yang dihadapi di Kazakhstan atau Georgia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan Iran. Di Iran, tim teknis kemungkinan besar tidak bisa langsung masuk ke dalam fasilitas. Karena uranium disimpan dalam bentuk gas di dalam silinder berat, ada risiko kebocoran akibat tekanan fisik dari bangunan yang runtuh.

“Jika silinder tersebut rusak, para ahli harus mengubah gas tersebut menjadi bubuk oksida terlebih dahulu agar aman untuk diangkut. Ini akan menjadi upaya yang sangat intensif yang akan memakan waktu berminggu-minggu,” kata Scott Roecker, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur Kantor Pemindahan Material Nuklir Departemen Energi dan sekarang berada di Nuclear Threat Initiative.

Pekerjaan itu dapat dilakukan menggunakan peralatan jarak jauh khusus, termasuk robot yang dapat memeriksa keberadaan bahan berbahaya dan kerusakan. Setelah material berhasil diamankan dalam bentuk yang stabil, barulah proses verifikasi oleh IAEA dilakukan untuk memastikan tidak ada satu gram pun uranium yang disembunyikan.

Persoalan terakhir yang tidak kalah pelik adalah tujuan akhir dari pengiriman ini. Iran secara tegas menolak jika uranium mereka jatuh ke tangan Amerika Serikat. Beberapa opsi yang muncul dalam meja perundingan adalah mengirimkan material tersebut ke Rusia atau memindahkannya ke Kazakhstan sebagai “bank uranium” yang dikendalikan di bawah pengawasan IAEA.

Advertisement