Regional

Gaji Rp 1,4 Juta, Guru MI Probolinggo Ini Wujudkan Mimpi Naik Haji

Advertisement

SURABAYA, KOMPAS.com — Roisyatul Khoriyah (56) dan suaminya, Abdul Syukur (60), tak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat tiba di Gedung Mina, Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Selasa (21/4/2026). Keduanya merupakan bagian dari jemaah haji Kloter 01 asal Probolinggo yang baru saja mendarat sekitar pukul 11.00 WIB. Di leher mereka tergantung kartu identitas jemaah yang menjadi simbol impian yang akhirnya terwujud.

Roisyatul menuturkan, rasa senang itu semakin membuncah karena keberangkatan mereka sempat tertunda. “Alhamdulillah, senang pastinya. Karena sempat ditunda, harusnya berangkat 2024 tapi ditunda karena dampak pandemi Covid-19,” ujarnya kepada Kompas.com.

Perjuangan Menabung Sejak 2012

Seragam batik dan gelang identitas yang dikenakan Roisyatul merupakan bukti nyata perjuangan panjangnya. Sejak tahun 2012, ia rutin menyisihkan sebagian penghasilan sebagai guru honorer di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Meski bergaji Rp 1.400.000 per bulan, Roisyatul tetap berkomitmen menabung.

“Gaji saya sekarang sebagai guru honorer di sekolah MI itu Rp 1.400.000. Insya Allah cukup. Kalau ada lebih saya tabung, kadang sisa Rp 20.000 sebulan tetap saya tabung, kalau sisa banyak ya nabung banyak,” jelasnya.

Kini, setelah tabungan hajinya lunas, keinginan untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci yang telah dipendam bertahun-tahun akhirnya menjadi kenyataan.

Persiapan Matang Menjelang Keberangkatan

Menjelang keberangkatan, Roisyatul telah melakukan berbagai persiapan, termasuk menjaga kondisi fisiknya. Ia rutin berolahraga setiap pagi dengan berjalan kaki di sekitar rumahnya agar tetap sehat selama menjalankan ibadah haji.

Advertisement

“Sebelum berangkat ya ada beberapa persiapan yang saya lakukan. Terutama olahraga biar tetap sehat selama di sana. Tiap pagi jalan-jalan kaki di dekat rumah,” ungkapnya.

Selain itu, Roisyatul juga membawa bekal makanan tahan lama seperti abon, kentang kering, ikan teri, dan berbagai camilan. Langkah ini diambilnya untuk mengantisipasi jika makanan di Tanah Suci tidak sesuai dengan selera lidahnya.

“Saya bawa abon, kentang kering, ikan teri, dan snack-snack yang sekiranya enggak melebihi timbangan bagasi. Takut enggak cocok, kan selera orang beda-beda,” tuturnya.

Doa untuk Keluarga dan Santri

Di Tanah Suci nanti, Roisyatul berencana memanjatkan doa khusus untuk anak-anaknya, baik yang ada di rumah maupun para santrinya di sekolah.

Sementara itu, Abdul Syukur, yang sehari-hari dikenal sebagai guru mengaji di kampungnya, berharap keberangkatannya kali ini dapat membawa keberkahan bagi seluruh murid dan santrinya. “Sangat gembira bisa haji. Mudah-mudahan Allah memberikan cahaya hati pada semua murid dan santri saya. Mereka harus tetap rajin belajar, jangan nakal, salat berjamaah, dan menjaga kebersihan tempat ngaji,” pesannya.

Advertisement