Tren

Dosen Perikanan Undip Ungkap Mengapa Ikan Sapu-sapu di Sungai Amazon Bisa Dikonsumsi Sementara di Indonesia Tidak

Advertisement

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Suminto, menjelaskan perbedaan mendasar mengapa ikan sapu-sapu di Sungai Amazon aman dikonsumsi, sementara spesies yang sama di Indonesia, khususnya di Sungai Ciliwung, justru menimbulkan kekhawatiran. Perbedaan krusial ini terletak pada kualitas habitat perairan tempat ikan tersebut hidup.

Penelitian internasional yang dipublikasikan oleh MDPI mengonfirmasi bahwa ikan sapu-sapu, atau yang dikenal sebagai ikan pleco, yang berasal dari Sungai Amazon telah berhasil dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif di berbagai negara. Pemanfaatan ini kerap kali diintegrasikan sebagai bagian dari strategi pengendalian populasi spesies invasif.

Studi tersebut bahkan secara eksplisit menyebutkan bahwa konsumsi ikan sapu-sapu dipromosikan sebagai komponen diet masyarakat, meskipun tingkat penerimaan bervariasi di setiap wilayah. Namun, ironisnya, ikan sapu-sapu yang ditemukan di perairan perkotaan Indonesia, seperti Sungai Ciliwung, dilaporkan telah terkontaminasi logam berat.

Bahkan, sebuah laporan Kompas.com pada Minggu, 20 April 2026, mengungkap adanya praktik terlarang yang memanfaatkan ikan sapu-sapu yang berharga murah sebagai bahan baku pembuatan siomay. Tujuannya tak lain adalah untuk menekan biaya produksi dalam industri kuliner.

Kualitas Habitat Air Jadi Penentu Konsumsi

Suminto menggarisbawahi bahwa fenomena ikan sapu-sapu yang dikonsumsi di kawasan Amazon, seperti Peru dan Ekuador, namun dihindari di Indonesia, sangat erat kaitannya dengan kualitas lingkungan perairan tempat mereka hidup.

Ia merinci bahwa ikan sapu-sapu yang berasal dari genus Hypostomus dan Pterygoplichthys ini sejatinya asli dari Sungai Amazon dan ekosistem sekitarnya. Di habitat aslinya, kondisi perairan Sungai Amazon masih relatif bersih dan sangat mendukung kehidupan ikan air tawar.

“Perairan di Sungai Amazon mempunyai kualitas yang cukup baik untuk kehidupan ikan air tawar dan tidak tercemar logam berat di atas ambang batas,” jelas Suminto kepada Kompas.com pada Senin, 20 April 2026.

Kandungan logam berat di sana, menurut Suminto, umumnya masih berada di bawah ambang batas aman, sehingga ikan tetap layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Sebaliknya, kondisi sungai di Indonesia, terutama yang melintasi kawasan perkotaan, telah mengalami pencemaran berat oleh berbagai jenis logam seperti merkuri, timbal, dan tembaga.

Kondisi pencemaran ini memicu akumulasi zat-zat berbahaya dalam tubuh ikan, termasuk pada bagian dagingnya. “Di Indonesia, sungai-sungai terutama di kota besar telah tercemar logam berat seperti Hg, Fe, Pb, Cu dengan konsentrasi tinggi, sehingga diduga daging ikan ikut terakumulasi logam berat,” tambahnya.

Advertisement

Risiko Akumulasi Logam Berat dalam Tubuh Ikan

Secara ilmiah, Suminto menerangkan bahwa kondisi lingkungan air memiliki pengaruh yang sangat menentukan terhadap kualitas biota yang hidup di dalamnya. Ikan, sebagai organisme air, secara alami akan menyerap zat-zat dari lingkungan sekitarnya, termasuk logam berat.

Penyerapan ini kemudian akan terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan, seperti darah, daging, dan organ lainnya. “Pada prinsip fisiologi organisme air, kehidupan biota sangat dipengaruhi oleh habitatnya,” ujarnya.

Meskipun ikan masih mungkin bertahan hidup dalam kondisi air yang mengandung logam berat tinggi, asalkan mampu beradaptasi, kemampuan bertahan hidup ini tidak serta-merta menjamin keamanannya untuk dikonsumsi manusia. “Apabila air mengandung logam berat tinggi maka akan mendorong akumulasi di dalam tubuh ikan, meski ikan tersebut masih bisa hidup,” jelasnya.

Potensi Konsumsi dengan Budidaya yang Tepat

Lebih lanjut, Suminto mengungkapkan bahwa meskipun ikan sapu-sapu memiliki reputasi yang kurang baik di Indonesia, spesies ini sebenarnya berpotensi menjadi sumber pangan yang berharga. Potensi ini dapat terwujud jika ikan tersebut dibudidayakan dengan standar yang tepat.

Kunci utama dalam budidaya yang aman adalah kualitas air yang bersih dan terkontrol, sebagaimana prinsip dasar budidaya ikan pada umumnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa ikan yang berasal dari habitat yang tidak tercemar tidak mengandung zat beracun yang berbahaya bagi manusia.

“Ikan sapu-sapu bisa layak dikonsumsi apabila dibudidayakan di lingkungan dengan kualitas air yang baik,” kata Suminto.

Standar keamanan pangan untuk ikan pada dasarnya tidak berbeda jauh, yaitu harus bebas dari kontaminasi, tidak mengandung racun, serta tetap dalam kondisi segar. Dengan pendekatan yang tepat, ikan sapu-sapu tidak hanya berpotensi menjadi sumber protein alternatif, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan spesies invasif.

“Perlu komitmen bersama antara pemerintah, peneliti, dan praktisi untuk mengembangkan budidaya secara terstruktur dan terprogram,” ujarnya, menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan potensi tersebut.

Advertisement