Di tengah terik matahari yang menyengat di pelataran Bhumi Atsanti, Borobudur, Jawa Tengah, pada suatu siang di bulan September 2024, Titi Permata Puspawati Hartoko terlihat khusyuk mendampingi anak-anak yang tengah belajar membatik. Canthing di tangannya bergerak perlahan, menorehkan malam ke atas kain putih. Tatapannya tajam, sesekali ia memperbaiki posisi tangan anak didiknya, mengingatkan pentingnya disiplin dalam setiap gerakan agar lilin tak tumpah.
Namun, begitu canthing diletakkan, raut wajah Titi berubah. Tawa lepas seketika mengembang, bahkan tubuhnya ikut bergoyang ringan dalam balutan kebaya kutu baru berwarna ungu. “Sudah terbiasa kepanasan, dulu di kapal juga begini,” ujarnya kepada Kompas.com, diakhiri tawa panjang yang meninggalkan jejak tanya tentang kapal.
Perjalanan Hidup Titi Permata: Dari Lautan ke Batik
Pertanyaan tentang “kapal” itu akhirnya terjawab hampir dua tahun kemudian, pada Minggu, 19 April 2026. Melalui sambungan telepon, Titi Permata Puspawati Hartoko, perempuan kelahiran 1 Juli 1976, menceritakan perjalanan hidupnya yang unik.
Sebelum menetap di Salatiga, Titi mengaku pernah menjalani hidup di dua kota sekaligus. “Mulai tahun 2014, saya bolak-balik antara Tobelo, Maluku Utara, dan Salatiga,” ungkapnya.
Di Tobelo, ia membangun kehidupan bersama suami dan dua anak laki-lakinya. Selain mengurus keluarga, Titi yang merupakan lulusan Fakultas Biologi Universitas Satya Wacana ini juga aktif dalam organisasi lingkungan. Sekitar tahun 2018, ia mendapat mandat untuk menjalankan program konservasi. Namun, ketiadaan dana justru memicu inovasi. Titi mulai menggalang dana secara mandiri, dan dari situlah lahir karya batiknya.
Lahirnya Batik dari Keterbatasan
Motif batik yang diciptakan Titi sangat khas, memadukan flora dan fauna dengan nuansa Maluku yang kental. “Saya belajar secara otodidak. Agaknya, bakat ini bekerja secara genetik, karena eyang buyut saya dulu juga seorang pembatik di Solo,” tuturnya.
Namun, di balik ketegaran itu, Titi menyimpan perjalanan sunyi yang panjang. Sejak tahun 2010, ia didiagnosis menderita tumor. Bersamaan dengan itu, ia juga memendam keinginan untuk mengakhiri pernikahannya, sebuah keputusan besar yang harus ditahannya bertahun-tahun.
“Selepas anak-anak tumbuh dewasa, barulah saya memutuskan berpisah dengan suami. Bahkan, saat itu anak-anak juga ikut terlibat dalam pengambilan keputusan ini, memberikan masukan sebagai laki-laki dewasa,” paparnya.
Badai yang Mengantarkan ke Samudra
Setelah melewati dua fase pemulihan, dari penyakit dan perpisahan, Titi memilih jalan yang tak banyak orang bayangkan. Menjelang pandemi Covid-19, ia justru melangkah ke arah yang lebih jauh, yaitu samudra lepas.
Langkah pertamanya dimulai sebagai project manager ekspedisi kapal layar Arka Kinari berbendera Belanda milik Grey Filastin. Kapal tersebut berlayar menyusuri jalur rempah Magellan, memasuki Indonesia melalui Sorong. “Saya mengawal dari Papua hingga Benoa Bali. Di kapal itu saya memegang kemudi jika pas kebagian jaga. Jadi beberapa orang mendapatkan shift masing-masing,” ujarnya.
Perjalanan berikutnya membawanya lebih jauh lagi. Di ekspedisi kapal Ceol More berbendera Australia milik Blair Stafford, Titi berlayar di perairan Tasmania, wilayah yang dikelilingi Samudra Selatan, selama tiga minggu.
Berguru pada Alam dan Nelayan
Kemampuan mengemudikan kapal dan membaca alam, menurut Titi, tidak datang dari pendidikan formal. Semua ia pelajari dari kehidupan sehari-hari. Selama tinggal di Maluku, ia hidup di kawasan pesisir. Rumahnya menghadap laut, dan mobilitasnya tak lepas dari perahu kecil menuju pulau-pulau sekitar.
“Dari situlah saya belajar soal alam, arah angin, arus laut, dan sebagainya,” katanya. Pengalaman itu perlahan membentuk kepekaan dalam membaca cuaca, memahami arus, hingga mengambil keputusan di tengah ombak yang ganas.
Tak heran, hingga kini, ia kerap dihubungi rekan-rekannya ketika menghadapi masalah di tengah pelayaran. “Banyak teman yang sampai sekarang masih mengontak jika ada masalah kapal, saya memberi masukan teknis jarak jauh dari Salatiga,” ujarnya.
Kembali ke Darat, Menumbuhkan Kehidupan
Pada tahun 2020, Titi memilih menetap di Salatiga. Setiap kali menjejak daratan usai ekspedisi di laut, langkahnya selalu kembali ke kota ini, tempat yang ia pilih karena kesejukan udaranya, lanskap alaminya, dan limpahan sumber air bersih.
Di kota inilah ia membangun Komunitas Soramata, sebuah ruang yang menggabungkan seni wastra dan pelestarian lingkungan. Bagi Titi, batik bukan sekadar sumber penghidupan untuknya dan kedua anaknya. Ia adalah medium untuk merawat alam.
“Komunitas saya bergerak di konservasi budaya dan lingkungan. Keduanya dijalin dalam batik dengan tematik,” ujarnya. Ia tetap memilih motif flora dan fauna, menggunakan pewarna alami, serta menerapkan proses produksi yang ramah lingkungan.
Inovasi Batik Pelindung UV
Inovasi terbarunya bahkan melampaui fungsi estetika. Ia berhasil menciptakan kain batik yang disebut mampu melindungi tubuh dari paparan sinar ultraviolet. “Ternyata, kain katun mentah yang tidak diputihkan yang dipadukan dengan pewarna alami tertentu, bisa efektif melindungi kulit dari sinar UV,” katanya.
Kain itu telah ia uji sendiri, bukan di laboratorium, melainkan langsung di tengah lautan. “Di Tasmania, di mana sinar UV ekstrem mencapai level 10, kain batik saya tetap terbukti mampu melindungi kulit,” ujarnya bangga.
Menjaga Canthing dan Lereng Merbabu
Kini, hari-hari Titi lebih banyak dihabiskan di darat bersama canthing dan malam, di sela-sela mendampingi kedua anaknya memilih jalur hidup masing-masing. Ia membebaskan keduanya menentukan arah, satu anak lelakinya kini bekerja di sektor pertambangan, sementara yang lain memilih terjun membesarkan komunitas batik bersamanya.
“Saya masih rutin membuka kelas-kelas workshop batik berbayar maupun tidak berbayar, dengan kisaran usia dari anak-anak hingga orang sepuh, semua gender saya ajarin,” katanya, diselingi tawa.
Di sisi lain, ia juga menjalankan program penanaman pohon endemik di lereng Merbabu. Selepas kegiatan tanam di Desember, ia akan rutin menengok ke sana, memantau pertumbuhan “anak-anak klorofilnya” tumbuh besar dengan sabar.
Dari batik ke laut, dari laut melaju ke hutan, Titi menenun hidupnya dalam dua lanskap yang berbeda, namun saling menguatkan. Bagi Titi, perpisahan bukan tembok yang runtuh. Ia adalah pintu yang terbuka lebar, yang membuktikan bahwa di darat maupun di lautan, ia mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri.






