JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melalui tim pengawas dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung menerapkan sistem pengawasan berlapis terhadap penyediaan makanan bagi jemaah haji Indonesia di Madinah. Pengawasan ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari persiapan hingga distribusi makanan ke hotel akomodasi jemaah.
Nova MH, perwakilan tim pengawas Poltekpar NHI Bandung, menjelaskan bahwa proses pengawasan dilakukan tiga kali sehari, sesuai dengan jadwal makan jemaah. “Pengawasan dilakukan dalam tiga tahap utama, yakni pra produksi, proses produksi, hingga distribusi makanan ke hotel tempat jemaah menginap,” ujar Nova, dikutip dari keterangan pers, Selasa (21/4/2026).
Dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi, menjaga kualitas dan keamanan pangan menjadi tantangan tersendiri. Salah satu aspek krusial yang diawasi adalah suhu makanan saat distribusi. “Makanan harus berada pada suhu 60–70 derajat Celsius saat didistribusikan ke hotel agar tetap higienis dan tidak mudah basi,” tegas Nova.
Ia juga mengimbau jemaah untuk segera mengonsumsi makanan setelah diterima. “Penundaan makan akan berpotensi menurunkan kualitas makanan, terutama jika terlalu lama disimpan meski dalam kondisi tertutup,” katanya.
Pengawasan Sejak Dini Hari
Tim pengawas telah memulai aktivitasnya sejak dini hari untuk memastikan kualitas makanan. Untuk menu sarapan, pengawasan dimulai pada pukul 00.00 hingga 04.00 waktu setempat, bertepatan dengan proses memasak. Sementara itu, pengawasan untuk makan siang dimulai sejak pagi hari.
Selain itu, pemeriksaan berkala juga dilakukan terhadap penyimpanan bahan makanan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa bahan makanan segar maupun kering tersimpan dengan baik, serta tidak ada yang rusak atau tidak layak konsumsi.
Perhatian pada Kandungan Gizi
Kemenag RI juga memberikan perhatian khusus pada keseimbangan gizi dalam setiap sajian. Asupan protein, karbohidrat, dan serat disusun secara seimbang untuk menjaga kondisi fisik jemaah selama menjalankan ibadah. Sumber protein meliputi daging sapi, ayam, ikan, telur, dan tempe. Karbohidrat disajikan dalam bentuk nasi dengan porsi yang terukur.
Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat, menu makanan diperkaya dengan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan, seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang. “Kami juga menambahkan menu seperti puding untuk membantu asupan serat jemaah,” pungkas Nova.






