Money

Fenomena Antrean Emas: Harga Turun Jadi Momentum Beli

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com — Penurunan harga emas belakangan ini justru memicu lonjakan pembeli yang memadati sejumlah gerai Galeri 24 di berbagai daerah. Fenomena ini berbanding terbalik dengan tren di awal tahun 2026, saat harga emas melonjak tajam.

Pada periode Januari hingga Februari 2026, harga emas tercatat mengalami kenaikan signifikan. Untuk emas ukuran 10 gram, harganya melonjak dari kisaran Rp 24.819.000 pada Januari menjadi sekitar Rp 29.222.000 pada Februari, sebuah kenaikan lebih dari Rp 4 juta dalam sebulan.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, harga emas mulai mengalami koreksi. Situasi ini memunculkan dua respons di masyarakat. Sebagian melihatnya sebagai sinyal kekhawatiran, sementara sebagian lainnya justru memanfaatkannya sebagai momentum investasi.

Emas Jadi Pilihan Tepat di Tengah Fluktuasi Harga

Kepala Divisi Komersial dan Pengembangan Bisnis Galeri 24, Ihdina Inti Rachma, menilai tingginya minat beli masyarakat saat harga emas turun mengindikasikan peningkatan pemahaman terhadap karakter investasi emas.

“Alih-alih panik saat harga turun, mereka memanfaatkannya sebagai momentum untuk menambah aset emasnya,” ujar Ihdina dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).

Menurut Ihdina, perubahan pola pikir ini menunjukkan bahwa masyarakat kini memandang emas bukan lagi sekadar alat spekulasi jangka pendek, melainkan sebagai aset lindung nilai untuk jangka panjang.

Ia menegaskan bahwa secara karakter, emas memang lebih tepat digunakan sebagai instrumen investasi jangka panjang, minimal lima tahun agar nilainya dapat berkembang optimal. Dengan karakteristik tersebut, fluktuasi harga dalam jangka pendek dianggap wajar.

Penurunan harga saat ini tidak lantas menjadi alasan untuk menghindari pembelian. Sebaliknya, bagi investor yang memahami siklus pasar, momen koreksi harga justru dimanfaatkan untuk menambah portofolio.

Lonjakan Permintaan Cerminan Literasi Keuangan

Fenomena antrean panjang di gerai Galeri 24 mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas fisik. Ihdina melaporkan bahwa sejumlah outlet mengalami lonjakan jumlah pembeli dibandingkan periode sebelumnya, bertepatan dengan tren penurunan harga emas.

Ihdina menilai perubahan perilaku ini tidak lepas dari meningkatnya literasi keuangan masyarakat. Pemahaman mengenai konsep “buy on weakness” atau membeli saat harga turun mulai diterapkan dalam keputusan investasi sehari-hari.

Hal ini juga menunjukkan masyarakat semakin memahami bahwa nilai emas tidak hanya dilihat dari pergerakan jangka pendek, tetapi dari potensi pertumbuhan nilai dalam jangka panjang.

Advertisement

Strategi Membeli Emas Saat Harga Turun

Di tengah kondisi harga yang berfluktuasi, sejumlah strategi dapat dilakukan masyarakat agar tetap optimal dalam berinvestasi emas:

  • Memantau pergerakan harga secara berkala: Informasi harga harian atau mingguan dapat membantu melihat tren, apakah harga masih dalam fase penurunan atau mulai stabil.
  • Menghindari keputusan terburu-buru: Penurunan harga tidak selalu berarti harus langsung membeli dalam jumlah besar. Strategi pembelian bertahap dinilai lebih aman untuk mengurangi risiko.
  • Menggunakan dana khusus investasi: Pembelian emas sebaiknya dilakukan menggunakan dana yang memang telah dialokasikan, bukan dana darurat atau kebutuhan sehari-hari.
  • Menyesuaikan dengan tujuan keuangan: Setiap pembelian emas perlu didasarkan pada tujuan yang jelas, seperti untuk tabungan jangka panjang, biaya pendidikan, atau diversifikasi aset.
  • Memilih tempat pembelian yang terpercaya: Aspek ini penting untuk memastikan keaslian produk serta keamanan transaksi.

Galeri 24, yang berada di bawah naungan PT Pegadaian, menawarkan jaminan terkait kualitas produk. Emas yang dijual memiliki kadar 999,9 persen dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Setiap produk dilengkapi sertifikat resmi dan kode keamanan berupa barcode yang dapat dipindai secara mandiri oleh nasabah untuk memastikan keaslian.

Emas batangan produksi Galeri 24 juga memiliki sistem verifikasi yang dirancang untuk meminimalkan risiko pemalsuan. Barcode yang tersemat pada produk dapat diperiksa melalui sistem yang telah disediakan.

Dari sisi transaksi, proses pembelian hingga penjualan kembali dinilai transparan. Produk yang dibeli dapat dijual kembali di seluruh outlet Galeri 24 maupun digadaikan di jaringan Pegadaian di seluruh Indonesia.

“Selain itu, harga beli lebih rendah dan harga jual kembali (buyback) lebih tinggi. Selisih antara harga jual dan harga beli lebih kecil dibandingkan merek lain, sehingga potensi cuannya lebih besar,” terang Ihdina.

Diversifikasi Produk dan Layanan

Selain produk emas batangan standar, Galeri 24 juga menawarkan layanan produk custom yang memungkinkan konsumen menentukan desain, bentuk, berat, hingga kadar emas sesuai kebutuhan. Produk custom tersebut mencakup emas batangan, emas siluet, hingga perhiasan, dan tersedia di seluruh outlet Galeri 24 di Indonesia.

Kehadiran produk custom ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menggabungkan aspek investasi dengan nilai personal, seperti untuk hadiah atau koleksi. Dengan berbagai pilihan produk dan layanan, masyarakat memiliki fleksibilitas dalam menentukan jenis investasi emas yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuangan masing-masing.

Lonjakan pembelian emas di tengah tren penurunan harga menjadi salah satu indikator meningkatnya literasi keuangan masyarakat. Perubahan pola pikir ini terlihat dari cara masyarakat merespons fluktuasi harga. Penurunan harga tidak lagi dipandang sebagai risiko semata, tetapi sebagai peluang untuk memperkuat kepemilikan aset.

Pemahaman ini juga menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang melihat emas sebagai instrumen lindung nilai yang stabil dalam jangka panjang. Dengan karakteristik tersebut, emas tetap menjadi salah satu pilihan investasi yang dipertimbangkan, terutama di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian pasar.

Fenomena antrean di Galeri 24 dalam beberapa hari terakhir menggambarkan bagaimana perubahan perilaku ini terjadi secara nyata di lapangan, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan keuangan dan investasi jangka panjang.

Advertisement