Global

Lanjutkan Blokade Usai Perpanjang Gencatan Senjata, Trump: Iran Rugi Rp 8,5 T Per Hari

Advertisement

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan meskipun gencatan senjata dengan negara tersebut telah diperpanjang. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa militer AS tetap bersiaga penuh di tengah-tengah perpanjangan gencatan senjata tersebut.

Trump mengklaim bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran merupakan inisiatif yang datang dari Pakistan, yang bertindak sebagai mediator antara kedua negara. “Mengingat bahwa Pemerintah Iran sedang mengalami perpecahan yang parah, hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, serta atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta untuk menunda serangan terhadap Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat menyusun usulan yang terpadu,” terang Trump, dikutip dari TheGuardian, Rabu (22/4/2026).

Ia melanjutkan, “Oleh karena itu, saya telah memerintahkan angkatan bersenjata kita untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siaga dan siap, serta akan memperpanjang gencatan senjata hingga usulan mereka diajukan dan pembicaraan selesai, bagaimanapun hasilnya.”

Tekanan Melalui Blokade Pelabuhan

Keputusan untuk melanjutkan blokade dilaporkan diambil setelah Presiden Trump menggelar pertemuan dengan tim inti keamanan nasionalnya di Gedung Putih pada Selasa (21/4/2026) sore. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas langkah selanjutnya terkait Iran.

Menurut dua sumber yang enggan disebutkan namanya, pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner. Namun, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard tidak termasuk dalam daftar peserta.

Hasil dari rapat tersebut adalah keputusan untuk terus memberikan tekanan kepada Iran melalui keberlanjutan blokade pelabuhan. Langkah ini dianggap dapat mengurangi daya tawar Iran, yang dinilai meningkat setelah mereka menutup Selat Hormuz.

Kerugian Ekonomi Harian Iran

Presiden Trump mengklaim bahwa blokade yang diterapkan oleh AS telah menyebabkan Iran merugi sekitar 500 juta dollar AS atau setara dengan Rp 8,58 triliun per hari.

Advertisement

Blokade ini secara spesifik menargetkan kapal-kapal yang berupaya memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran. Jika ada kapal yang teridentifikasi terkait Iran dan mencoba menerobos blokade, militer AS akan memerintahkan kapal tersebut untuk kembali ke asal.

“Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup; mereka ingin selat itu tetap terbuka agar mereka bisa meraup 500 juta dolar AS per hari (yang berarti, itulah jumlah yang akan mereka rugi jika selat itu ditutup!),” tulis Trump di Truth Social, dilansir dari Euronews, Rabu (22/4/2026).

Ia menambahkan, “Mereka hanya bilang ingin tempat itu ditutup karena aku sudah benar-benar memblokirnya (menutupnya!), jadi mereka cuma ingin ‘menjaga muka’.”

Blokade Kunci Kesepakatan

Trump secara tegas menolak kemungkinan untuk mencabut blokade militer AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ia berpendapat bahwa pencabutan blokade tersebut akan menggagalkan tercapainya kesepakatan komprehensif dengan Iran untuk mengakhiri permusuhan.

“Empat hari yang lalu ada orang yang mendatangi saya dan berkata, ‘Pak, Iran ingin membuka Selat itu, segera’,” terang Trump.

“Tapi kalau kita melakukan itu, tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan seluruh negaranya, termasuk para pemimpinnya!” imbuhnya, menegaskan bahwa blokade adalah syarat mutlak untuk negosiasi.

Advertisement