Sumenep, Kompas.com — Kondisi serba terbatas tak menyurutkan semangat Inna Fariana (30) untuk mengabdikan diri sebagai bidan di Desa Tembayangan, sebuah pulau di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Meskipun menghadapi medan yang sulit dan gaji minim, Inna tetap menjalankan tugasnya melayani persalinan warga, bahkan pernah harus menolong ibu melahirkan di atas perahu.
Kisah perjuangan Inna dimulai sejak masa kecilnya. Ia harus kehilangan kedua orang tua saat masih belia. “Yang mendorong memilih kebidanan, sebenarnya bukan pilihan saya. Saya kan yatim piatu, ambil kebidanan tidak mungkin kuat saat itu,” ungkap Inna pada Selasa (21/4/2026).
Ayahnya meninggal ketika Inna duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar, disusul ibunya saat ia duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Sebagai anak yatim piatu, Inna tumbuh dalam keterbatasan bersama dua saudaranya, dengan dukungan keluarga besar.
Meski demikian, tekadnya untuk menempuh pendidikan kebidanan akhirnya terwujud. Ia berhasil lulus dari pendidikan kebidanan di Kediri pada tahun 2015. “Meskipun tidak sama seperti kawan-kawan yang lain, dari segi uang jajan dan keseharian banyak kurangnya,” kenangnya.
Akses Sulit, Risiko Tinggi
Setelah lulus, Inna mulai mengabdi di Puskesmas Kangayan pada tahun 2016, sebelum akhirnya bertugas di Desa Tembayangan, kampung halamannya. Di desa kepulauan tersebut, ia menjadi salah satu dari dua bidan yang melayani kebutuhan medis masyarakat. Kondisi geografis yang sulit menjadi tantangan utama dalam tugasnya.
Warga harus menempuh perjalanan laut selama 3 hingga 4 jam atau melalui jalur darat yang tak kalah sulit untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. “Kalau ada pasien yang akan melahirkan, sudah galau duluan,” kata Inna, menggambarkan kecemasannya menghadapi situasi darurat.
Dalam kondisi mendesak, Inna dan rekan-rekannya kerap dihadapkan pada keputusan medis yang harus diambil di lokasi. Ia menceritakan pengalaman tak terlupakan saat harus menangani persalinan di atas perahu pada tahun 2018. Setahun sebelumnya, pada 2017, ia juga pernah membantu persalinan di atas pikap karena akses yang sangat terbatas.
“Karena pertimbangan jarak dan sarana, akhirnya kami yang harus berani mengambil keputusan,” ujarnya. Keterbatasan fasilitas kesehatan, termasuk pasokan listrik dan jaringan komunikasi yang minim, turut memperberat tugasnya dalam memberikan pelayanan terbaik.
Tetap Tegar Meski Gaji Minim
Meski dihadapkan pada berbagai kesulitan, Inna berusaha untuk tetap tegar di hadapan warga. “Meskipun hati menangis, ya sudah pura-pura tenang,” ucapnya, menunjukkan profesionalisme di tengah situasi sulit.
Sebagai bidan desa, Inna harus siap siaga selama 24 jam. Pada Desember 2025, Inna akhirnya mendapatkan status sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Namun, gaji yang diterimanya masih terbilang minim, yakni sebesar Rp 350.000 per bulan.
Kendati demikian, ia tetap menjalani tugas mulia ini sambil mengurus buah hatinya yang kini berusia tujuh tahun. “Pernah berharap bisa di fasilitas yang lebih layak. Tapi mau bagaimana lagi, saya jalani, saya syukuri,” tuturnya dengan nada ikhlas.






