PEKANBARU, Kompas.com – Di tengah hiruk pikuk Kota Pekanbaru, Riau, Jumaida (40) menjalani hari-harinya sebagai penjaga kebersihan jalan. Di balik seragam cokelat dan masker yang dikenakannya, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu tunggal yang tak kenal lelah demi menghidupi kedua buah hatinya.
Setiap pagi, sebelum mentari benar-benar terbit, Jumaida sudah berada di jalan. Ia memulai aktivitasnya setelah menunaikan salat Subuh di rumahnya di Jalan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur. Dengan perlengkapan kerja berupa topi, masker, dan rompi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, ia menyapu median jalan, memastikan kebersihan kota tetap terjaga. Jadwal kerjanya dimulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.
“Saya tugasnya menyapu di bagian media jalan,” ujar Jumaida saat ditemui Kompas.com di kawasan Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Selasa (21/4/2026).
Jumaida dikaruniai dua orang putri. Anak pertamanya kini berusia 22 tahun dan telah berkeluarga. Sementara itu, putri keduanya yang berusia 20 tahun, turut membantu meringankan beban ibunya dengan bekerja sebagai tenaga penjualan kartu provider telekomunikasi.
Berjuang Seorang Diri
Selama hampir 16 tahun, Jumaida telah mengabdikan diri sebagai tukang sapu jalan di ibu kota Provinsi Riau ini. Namun, sejak tahun 2019, ia harus memikul tanggung jawab keluarga seorang diri setelah berpisah dengan suaminya.
“Saya pisah hidup. Tahun 2019 kami pisah, sekarang dia (mantan suami) sudah meninggal dunia,” ungkapnya dengan nada lirih.
Sejak saat itu, Jumaida menjadi tulang punggung bagi kedua anaknya. Ia tak pernah menyerah pada keadaan, menghadapi terik matahari dan guyuran hujan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan penghasilan bulanan sekitar Rp 2 juta, ia harus pandai mengatur keuangan agar cukup hingga akhir bulan.
Jumaida mengakui beratnya berjuang seorang diri. “Susah senang saya lewati. Berat sebenarnya berjuang sendiri. Aturannya tanggung jawab seorang ayah, kita yang menopang lagi kan. Menjadi seorang ibu iya, menjadi kepala keluarga iya. Tapi, insyaallah saya jalani dengan ikhlas. Pantang bagi saya menyerah. Apa pun pekerjaan saya lakukan demi anak. Yang penting tidak minta-minta,” katanya penuh keyakinan.
Air mata pernah tumpah di pipi Jumaida saat anak keduanya mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMA. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tak bisa memenuhi impian sang anak.
“Saya sedih lihat anak orang kuliah, anak kita tidak bisa. Dengan kehidupan kita yang segini bagaimana mau kuliah. Saya bilang ke dia ‘Nak, cita-cita boleh tinggi, tapi lihat kehidupan kita belum memenuhi. Pendapatan yang sekarang saja masih kurang.’ Padahal, anak saya ini orangnya cerdas, sering juara di sekolah,” tutur Jumaida, menyimpan harapan di balik kepedihan.
Menantang Maut di Jalanan
Belasan tahun menyapu jalan, Jumaida kerap dihadapkan pada risiko. Ia menyebut pekerjaannya ini sejatinya menentang maut, terutama karena tugasnya berada di median jalan yang dilalui kendaraan.
“Sukanya ya ada yang kita harapkan per bulan. Bisalah buat makan sama bayar cicilan motor. Meskipun tidak bisa menutupi sepenuhnya. Kalau dukanya, itulah bertentangan dengan maut karena kami di bagian tengah jalan,” jelasnya.
Ia menceritakan sebuah insiden di mana ia pernah terserempet mobil saat sedang bekerja. Beruntung, luka yang dialaminya tidak parah.
“Waktu itu lagi nyapu jalan, tiba-tiba ditabrak orang. Kena serempet gitu, tapi tidak luka parah. Apa pun rintangannya, tetap kita lewati. Selagi sanggup, mengapa tidak,” ujarnya pasrah namun tetap tegar.
Setelah kejadian tersebut, Jumaida semakin meningkatkan kewaspadaannya saat bertugas di jalanan yang padat lalu lintas.
Kegigihan dan semangat juang Jumaida dalam menjalani kehidupannya seolah mencerminkan sosok Raden Ajeng Kartini. Baginya, Kartini adalah simbol pejuang tangguh dengan semangat tinggi yang layak dicontoh oleh seluruh perempuan.
“Saya juga ingin menjadi wanita yang tangguh seperti Kartini. Beliau adalah sosok yang tangguh, yang tak bisa dikiaskan dengan kata-kata,” pungkas Jumaida, memancarkan inspirasi dari keteguhan hatinya.






