Megapolitan

Kartini di Balik Seragam Satpol PP DKI, Kisah Karlina Menembus Dunia Maskulin

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Peringatan Hari Kartini pada 21 April setiap tahunnya menjadi pengingat akan perjuangan perempuan Indonesia, termasuk bagi mereka yang meniti karier di sektor yang secara tradisional didominasi kaum pria. Meskipun akses semakin terbuka, tantangan berupa stigma dan stereotip gender masih membayangi dunia kerja.

Di tengah persepsi bahwa pekerjaan lapangan yang keras hanya cocok untuk laki-laki, Karlina (43) justru menemukan panggilan hidupnya. Sejak tahun 2004, ia telah mengabdikan diri di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta, sebuah profesi yang kerap dianggap eksklusif bagi kaum adam.

Perjalanan kariernya dimulai sebagai pegawai tidak tetap sebelum akhirnya diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 2008. Lebih dari dua dekade mengabdi, Karlina telah membuktikan diri bahwa menjadi aparat bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan sebuah bentuk pengabdian.

“Memang dari awal saya ingin punya pekerjaan yang bisa langsung bersentuhan dengan masyarakat. Saya orangnya cukup ekstrovert, jadi senang berada di lapangan,” ujar Karlina saat berbincang dengan Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Karlina bercerita, kariernya dimulai dari posisi yang paling dekat dengan masyarakat, yakni bertugas di kelurahan wilayah Jakarta Selatan. Di sana, ia merasakan langsung dinamika lapangan yang sesungguhnya. Peran Satpol PP, menurutnya, tidak hanya sebatas menegakkan aturan, tetapi juga membantu masyarakat dalam berbagai situasi.

Ia seringkali menjadi tempat warga berkeluh kesah, mulai dari persoalan keluarga hingga kondisi darurat. “Kadang ada yang minta tolong, warga sakit, keluarga berantem, bahkan sampai orang mau bunuh diri. Kita turun langsung,” katanya.

Pengalaman Mengubah Perspektif

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Karlina terjadi saat penertiban terhadap pengemis di kawasan Jakarta Selatan. Awalnya, ia merasa iba melihat seorang anak kecil yang ikut mengemis di atas gerobak. Namun, temuan di lapangan justru mengejutkan.

“Setelah kita periksa, ternyata mereka bawa uang Rp 4,4 juta. Ada dua ponsel, tablet, bahkan STNK motor. Anak kecilnya minum susu mahal,” ungkapnya. Lebih lanjut, Karlina dan tim menemukan bahwa aktivitas mengemis tersebut dilakukan secara terorganisir.

“Mereka ternyata punya mobil. Jadi memang ada oknum yang menjadikan mengemis sebagai profesi,” katanya. Pengalaman ini mengubah cara pandangnya terhadap realitas sosial di lapangan. “Dari situ saya jadi belajar, tidak semua yang terlihat kasihan itu benar-benar seperti itu,” tambahnya.

Kesetaraan dan Kepercayaan Diri di Lingkungan Maskulin

Bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki tentu bukan tanpa tantangan. Namun, Karlina berupaya memposisikan diri bahwa ia memiliki kapabilitas, peran, dan porsi yang sama dalam menjalankan tugas.

Advertisement

“Beban kerja sama, tanggung jawab sama. Kita tidak pernah minta perlakuan khusus hanya karena perempuan,” tegasnya. Menurutnya, kunci membangun kepercayaan diri di tengah mayoritas laki-laki adalah dengan menunjukkan kemampuan secara langsung, bahwa perempuan juga mampu.

“Kita tunjukkan saja. Jangan bilang ‘saya takut’ atau ‘saya tidak berani’. Kita jalan bersama,” ujarnya. Baginya, perempuan tidak perlu bersaing untuk mengalahkan laki-laki, melainkan cukup berdiri sejajar dan memberikan kontribusi terbaik.

Makna Hari Kartini bagi Karlina

Di momen Hari Kartini, Karlina memaknai emansipasi perempuan sebagai kesempatan untuk ikut ambil bagian, bukan mendominasi. “Emansipasi itu kita diberi ruang untuk berkarya. Bukan untuk melebihi laki-laki, tapi untuk berjalan bersama,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kesetaraan tidak hanya di dunia kerja, tetapi juga dalam rumah tangga. “Di rumah juga sama, saling melengkapi. Bukan cuma perempuan yang harus mengerjakan semuanya,” ujarnya.

Di balik karier panjangnya, Karlina mengaku beruntung memiliki dukungan penuh dari keluarga. Bahkan, saat ia sempat ingin berhenti, anaknya justru memintanya untuk tetap bertahan. “Anak saya bilang, ‘Mama sudah bangun dari bawah, jangan berhenti sekarang’,” kenangnya. Dukungan tersebut menjadi energi yang membuatnya terus melangkah hingga hari ini.

Peran Satpol PP dan Pesan untuk Perempuan

Saat ini, Karlina bertugas sebagai Kasi Linmas dan Kehumasan Satpol PP Kota Administrasi Jakarta Pusat. Ia berupaya memperkuat citra Satpol PP agar lebih dekat dengan masyarakat, sebab menurutnya, Satpol PP kerap dipandang hanya sebagai penertib pedagang, padahal banyak peran lain yang dijalankan, mulai dari sosialisasi hingga membantu warga dalam berbagai situasi.

“Kita ini banyak berinteraksi dengan masyarakat. Jadi bukan hanya soal penertiban,” ujarnya. Karlina pun menyampaikan pesan agar perempuan tidak ragu melangkah di dunia kerja yang didominasi laki-laki. Menurutnya, rasa ragu dan rendah diri justru menjadi penghalang terbesar untuk berkembang.

Perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk terlibat langsung dan berkontribusi, selama berani mencoba dan membuktikan diri. “Jangan ragu dan jangan merasa rendah diri. Kita bukan hanya mendukung, tapi juga bisa masuk dan berjalan bersama,” tegasnya.

Advertisement