Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berada di ujung tanduk. Gencatan senjata yang berlangsung selama dua pekan akan berakhir pada Rabu (22/4/2026), namun negosiasi menemui jalan buntu akibat ketidaksepakatan terkait blokade Selat Hormuz.
Iran menegaskan tidak akan berunding selama berada di bawah ancaman blokade yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga Teheran bersedia menyepakati perjanjian baru.
Di tengah ketegangan yang memuncak, Lebanon dan Israel dijadwalkan kembali ke Washington, DC, pada Kamis (23/4/2026) untuk melanjutkan putaran perundingan berikutnya. Sebelumnya, Trump sempat menyebut putaran kedua negosiasi dengan Iran akan digelar di Pakistan pada Selasa (21/4/2026), menjelang berakhirnya gencatan senjata. Namun, Iran menolak partisipasi, menuding AS melakukan “pembajakan bersenjata” pasca-penyitaan kapal tanker, yang semakin memperkeruh suasana.
Trump Kembali Lontarkan Ancaman Keras
Pada Minggu (20/4/2026), Presiden Donald Trump menyatakan bahwa para negosiator AS akan bertolak ke Islamabad, Pakistan, untuk menggelar pembicaraan guna mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran. Trump tidak merinci siapa saja pejabat yang akan dikirim, namun ia menyebut putaran pertama perundingan sebelumnya yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance berakhir tanpa kesepakatan.
Trump juga menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan melakukan tembakan di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026). Ia kembali melontarkan ancaman keras, menyatakan bahwa Amerika Serikat siap menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika Teheran menolak proposal kesepakatan.
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik, dan setiap jembatan, di Iran,” tulis Trump di platform Truth Social.
Sebagai eskalasi lanjutan, Trump mengungkap bahwa kapal berbendera Iran bernama Touska dihentikan oleh pasukan AS di Teluk Oman dengan merusak ruang mesinnya. Kapal tersebut disebut mencoba menembus blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebelum akhirnya dikuasai oleh pasukan Amerika.
Klaim Trump Dibantah Iran, Negosiasi Makin Tak Menentu
Dilansir dari CNN, Selasa (21/4/2026), Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui sejumlah poin penting dalam perundingan, termasuk isu-isu yang menurut sumber terkait belum difinalisasi. Ia bahkan menyebut Teheran telah menerima tuntutan paling sensitif dari AS, seperti penyerahan uranium yang diperkaya, serta menyatakan bahwa konflik akan segera berakhir.
Namun, pejabat Iran secara terbuka membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada persiapan untuk putaran negosiasi lanjutan. Penolakan ini meredam optimisme yang sempat muncul, sekaligus membuat arah pembicaraan damai menjadi tidak menentu.
Di sisi lain, sejumlah pejabat pemerintahan Trump secara tertutup mengakui kepada CNN bahwa pernyataan publik presiden justru merugikan proses diplomasi. Mereka menilai langkah tersebut memperburuk ketidakpercayaan Iran terhadap AS, di tengah sensitivitas tinggi dalam negosiasi.
Perbedaan Pandangan Internal Iran
Situasi semakin rumit dengan dugaan adanya perbedaan pandangan di internal Iran. Terdapat ketidakjelasan mengenai pihak yang berwenang mengambil keputusan akhir dalam kesepakatan, antara tim negosiator yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
“Pihak Iran tidak menyukai Presiden AS yang bernegosiasi melalui media sosial dan membuat seolah-olah mereka telah menyetujui isu-isu yang belum mereka sepakati,” kata sumber yang mengetahui proses tersebut, seraya menambahkan bahwa Iran khawatir akan terlihat lemah di dalam negeri.
Dalam berbagai pernyataannya, Trump menyebut Iran telah menyetujui penangguhan program nuklir secara “tidak terbatas”, menerima seluruh tuntutan AS, dan bahkan memperkirakan kesepakatan bisa tercapai dalam waktu satu hingga dua hari ke depan. Namun, bantahan dari pihak Iran membuat prospek perdamaian semakin buram.






