Regional

Elpiji Nonsubsidi Makin Mahal, Dedi Mulyadi Ajak Warga Jabar Beralih ke Energi Alternatif

Advertisement

BANDUNG, Indonesia — Lonjakan harga elpiji nonsubsidi yang kian memberatkan masyarakat memantik respons dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengajak warganya untuk tidak terpaku pada satu sumber energi dan mulai melirik opsi alternatif yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi ini terasa signifikan, terutama pada tabung ukuran 12 kilogram yang kini menyentuh angka sekitar Rp 228.000, menandai kenaikan sekitar 18,75 persen. Sementara itu, tabung 5,5 kilogram dibanderol seharga kurang lebih Rp 107.000.

Kebijakan Pusat, Solusi Lokal

Menanggapi situasi tersebut, Dedi Mulyadi menekankan bahwa penetapan harga energi, termasuk elpiji, merupakan kewenangan pemerintah pusat. Namun, ia tidak lantas berdiam diri.

“Kan kalau elpiji dari segi energi kan kebijakannya pemerintah pusat,” ujar Dedi Mulyadi saat ditemui di Bandung, Rabu (tanggal/bulan/tahun).

Alih-alih menunggu kebijakan dari pusat, Dedi mendorong masyarakat Jawa Barat untuk beradaptasi dengan memanfaatkan sumber energi alternatif. Ia meyakini potensi inovasi masyarakatnya.

“Jadi kita harus berusaha untuk menyesuaikan dengan tingkat kemampuan kita dan kebutuhan kita. Saya meyakini warga Jawa Barat dan Indonesia ini warga yang inovatif,” tuturnya.

Energi Alternatif yang Ditawarkan

Sebagai langkah konkret, Dedi Mulyadi menyodorkan beberapa opsi energi alternatif yang dapat dipertimbangkan oleh masyarakat, di antaranya:

  • Kayu bakar, khususnya bagi warga yang berdomisili di wilayah pedesaan.
  • Biogas yang dihasilkan dari pengolahan kotoran ternak, seperti sapi.
  • Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan.

Menurut Dedi, mengoptimalkan potensi sumber daya lokal merupakan strategi jitu untuk mengurangi ketergantungan pada elpiji yang harganya terus merangkak naik.

“Kami di daerah mendorong masyarakat untuk tidak bergantung sepenuhnya pada elpiji. Di daerah perkampungan, misalnya, ketersediaan kayu bakar masih melimpah. Itu bisa menjadi pilihan,” jelasnya.

Advertisement

Kemandirian Energi di Lembur Pakuan

Dedi Mulyadi tidak hanya sekadar memberikan imbauan. Ia telah mempraktikkan konsep kemandirian energi di kediamannya di Lembur Pakuan. Di sana, ia mengembangkan sistem pengolahan limbah kotoran ternak menjadi biogas.

Dengan memelihara ratusan ekor sapi dan domba, limbah kotoran ternak diolah menjadi energi gas yang kemudian disalurkan secara gratis kepada rumah-rumah warga di sekitarnya. Program ini menjadi bukti nyata bahwa energi terbarukan dapat diakses oleh masyarakat.

“Tetangga-tetangga di sini dikasih gas dari sini, biogas dari kotorannya. Kalau gas melon, sudah tidak ada lagi di sini,” ungkap Dedi sambil menunjukkan pemanfaatan biogas di dapur salah seorang warga.

Program biogas gratis ini tidak hanya berfungsi sebagai solusi energi, tetapi juga sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya energi terbarukan.

Pesan untuk Menyesuaikan Kebutuhan

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya bagi setiap individu untuk menyesuaikan kebutuhan energi dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Ia mendorong masyarakat untuk kembali menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya lokal sebagai solusi jangka panjang.

“Prinsipnya, kita harus menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan. Saya optimistis warga kita memiliki kecerdasan dan kreativitas untuk berinovasi di tengah kondisi ini,” pungkasnya.

Artikel ini mengadaptasi konten dari pemberitaan sebelumnya di TribunJabar.id dan Kompas.com dengan judul “Dedi Mulyadi Ajak Masyarakat Kembali ke Kayu Bakar dan Biogas, Imbas Harga LPG Naik”.

Advertisement