Perjuangan panjang perempuan untuk meraih ruang publik dan kebebasan bersuara masih dihadapkan pada tantangan serius, terutama maraknya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menyoroti ironi ini dalam podcast Gaspol! yang tayang di YouTube Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Menurut Rieke, pencapaian perempuan saat ini merupakan buah perjuangan gigih para pendahulu seperti Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika, serta organisasi perempuan yang menginisiasi Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928. “Jalan yang panjang untuk perempuan bisa ada di ruang publik, perempuan ada di ruang politik, perempuan bisa bersuara,” ujar Rieke.
Ia mencontohkan bagaimana RA Kartini dan Dewi Sartika harus bersusah payah mendirikan sekolah khusus perempuan demi memberikan akses pendidikan. Namun, di tengah kemajuan tersebut, kasus kekerasan seksual justru semakin marak, bahkan di lingkungan kampus. Kondisi ini diperparah dengan adanya anggapan bahwa kekerasan seksual seringkali dianggap remeh atau bahkan dinormalisasi.
“Ketika orang sudah menganggap kejahatan seksual itu adalah sesuatu yang normal, maka kejahatan yang lain, mau korupsi, mau apa, itu sudah lebih tak dianggap lagi,” tegas Rieke, politikus PDI Perjuangan. Ia menekankan bahwa perjuangan perempuan untuk bebas dari ancaman kekerasan seksual masih jauh dari selesai.
Perjuangan Lintas Gender
Rieke mengingatkan bahwa semangat perjuangan RA Kartini bukanlah untuk menciptakan dikotomi antara laki-laki dan perempuan, apalagi membangun tirani perempuan atas laki-laki. Sebaliknya, nilai yang diajarkan adalah kolaborasi.
“Ini adalah persoalan laki-laki maupun perempuan bergandengan tangan untuk membangun suatu sistem bermasyarakat, berbangsa, bernegara yang lebih baik,” tuturnya.
Obrolan lengkap mengenai isu kekerasan seksual di kampus dan perjuangan perempuan dapat disimak dalam podcast Gaspol! yang tayang perdana pada Selasa (21/4/2026) pukul 20.30 WIB.






