Global

4 Skenario jika Perundingan AS-Iran di Pakistan Temui Jalan Buntu

Advertisement

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan berpotensi menemui jalan buntu, memicu berbagai skenario lanjutan terkait eskalasi ketegangan kedua negara. Gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026) belum menunjukkan kepastian perpanjangan di tengah meningkatnya friksi dalam beberapa hari terakhir. Belum ada konfirmasi resmi dari Washington maupun Teheran mengenai penyelenggaraan negosiasi putaran kedua, meskipun Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS di Islamabad.

Analis menilai, jika perundingan kembali gagal mencapai kesepakatan, dinamika hubungan AS-Iran bisa bergeser ke empat kemungkinan utama, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Selasa (21/4/2026).

Empat Skenario Jika Perundingan AS-Iran di Pakistan Gagal

1. Kesepakatan Sementara dalam Pembicaraan

Pakistan berupaya keras agar kedua negara dapat menyepakati negosiasi yang berlangsung selama beberapa hari. Sumber yang dekat dengan upaya mediasi di Islamabad mengungkapkan bahwa para mediator menargetkan tercapainya sebuah “nota kesepahaman” antara AS dan Iran. Tujuannya adalah untuk mengulur waktu demi mencapai kesepakatan akhir dan memperpanjang gencatan senjata.

“Keberhasilan bukanlah kesepakatan final. Itu akan menjadi pemahaman sementara yang memperpanjang pembicaraan, menstabilkan gencatan senjata, dan menciptakan kerangka kerja untuk menukar langkah-langkah nuklir dengan pencabutan sanksi,”

ujar Ali Vaez, direktur proyek Iran untuk lembaga think tank International Crisis Group. Namun, ia juga mencatat adanya perbedaan pandangan yang signifikan antara kedua belah pihak, terutama terkait program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz.

2. Negosiasi Tanpa Kesepakatan, Namun Gencatan Senjata Diperpanjang

Untuk mencapai kemajuan yang berarti, diperlukan kompromi dari kedua pihak yang berunding.

“Jika kedua pihak tidak mengubah pendirian mereka, tidak akan ada kesepakatan di Islamabad,”

kata Aniseh Bassiri Tabrizi, peneliti di Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga think tank Chatham House. Ia menambahkan bahwa saat ini terdapat jurang perbedaan yang terlalu besar untuk segera mencapai kesepakatan.

Tabrizi berpendapat bahwa meskipun tidak ada terobosan dalam negosiasi, kedua belah pihak mungkin akan menyepakati perpanjangan sementara gencatan senjata. Hal ini dapat memberikan kesempatan lebih lanjut bagi upaya diplomasi.

3. Gencatan Senjata Diperpanjang Tanpa Ada Pembicaraan

Sebelumnya, Presiden AS Trump menyatakan bahwa gencatan senjata akan berakhir pada Rabu malam waktu Washington dan tidak mungkin diperpanjang jika tidak ada kesepakatan. Namun, para analis tidak menutup kemungkinan munculnya pengumuman mendadak dari Trump melalui platform Truth Social yang memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata, bahkan jika Iran menolak hadir dalam pembicaraan di Islamabad.

Advertisement

“Ini (akan) menjadi jeda yang rapuh, bukan gencatan senjata yang langgeng. Selama tekanan maritim dan saling tuduh terus berlanjut, risiko salah perhitungan tetap sangat tinggi,”

peringatan Vaez. Ia menambahkan bahwa tanpa kerangka diplomatik, perpanjangan tersebut hanya akan mengulur waktu dan tidak membangun stabilitas.

4. Perundingan Gagal Total dan Gencatan Senjata Berakhir

Ancaman Trump untuk kembali melancarkan serangan udara ke Iran jika tidak ada kesepakatan membuka skenario terburuk.

“Lalu banyak bom akan mulai meledak,”

ujar Trump kepada PBS News pada Senin (20/4/2026) ketika ditanya mengenai konsekuensi berakhirnya gencatan senjata.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Bagher Ghalibaf pada Selasa (21/4/2026) menyatakan bahwa Trump “berupaya mengubah meja perundingan ini, dalam imajinasinya sendiri, menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan kembali provokasi perang”. Ghalibaf mengisyaratkan kesiapan militer Teheran untuk dimulainya kembali pertempuran, dengan mengatakan,

“Kami telah bersiap untuk mengungkap kartu-kartu baru di medan perang.”

Vaez memperingatkan bahwa jika gencatan senjata benar-benar gagal, babak selanjutnya kemungkinan akan memburuk dengan cepat. Ia memprediksi AS akan menargetkan infrastruktur vital Iran, yang dapat memicu konflik lebih luas di seluruh kawasan.

Advertisement