Tren

53 Hari Perang AS-Israel Vs Iran, Damai Masih Buntu Jelang Akhir Gencatan Senjata

Advertisement

Perang AS-Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-53, dengan upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang masih menemui jalan buntu jelang berakhirnya periode gencatan senjata. Serangan awal oleh koalisi AS-Israel terhadap Teheran dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga kesepakatan damai tercapai. Namun, Teheran bersikeras agar blokade tersebut dicabut sebelum pembicaraan dapat dimulai. Gencatan senjata selama dua minggu yang telah berlangsung akan berakhir pada Rabu, 22 April 2026.

Di tengah situasi ini, Washington juga bersiap untuk memediasi pembicaraan antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan pada Kamis (23/4/2026). Situasi di lapangan masih memanas, dengan pasukan Israel dilaporkan masih melancarkan serangan di Lebanon Selatan. Enam orang dilaporkan terluka dan sejumlah rumah hancur akibat serangan tersebut, meskipun telah ada gencatan senjata selama sepuluh hari.

Perkembangan Terbaru Iran

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan kesiapan negaranya untuk menunjukkan “kartu baru” di medan perang jika bentrokan dengan Amerika Serikat terus berlanjut pasca berakhirnya gencatan senjata. Otoritas penerbangan Iran juga telah mengumumkan pembukaan kembali Bandara Imam Khomeini dan Mehrabad yang sempat ditutup selama beberapa minggu akibat perang.

Amerika Serikat sebelumnya menuntut Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan menyerahkan uranium yang telah diperkaya, namun tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Teheran. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan untuk penelitian dan tidak berniat membuat bom atom.

Selain itu, Iran juga meminta pembebasan aset-asetnya yang dibekukan serta kompensasi atas kerusakan yang timbul akibat serangan AS dan Israel. Akademisi Zohreh Kharazmi berpendapat bahwa Teheran merasa memegang kendali dan tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman, mengingat Presiden Trump sangat membutuhkan negosiasi, meskipun Iran sendiri lebih memilih untuk menghindari eskalasi konflik.

Pernyataan dan Tanggapan Negara Lain

Seorang pejabat AS menginformasikan bahwa Departemen Luar Negeri AS akan menggelar pembicaraan baru pada Kamis, menyusul berakhirnya gencatan senjata. Tim negosiasi AS diperkirakan akan segera bertolak ke Pakistan untuk perundingan lebih lanjut, meskipun Iran belum memberikan konfirmasi partisipasinya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut blokade Selat Hormuz sebagai sebuah kesalahan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, baik AS maupun Iran. Rusia sebelumnya telah menyerukan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran. Sementara Tiongkok, sebagai pembeli utama minyak Iran, menyatakan keprihatinannya atas penyitaan kapal berbendera Iran oleh AS di dekat Selat Hormuz dan mendesak semua pihak untuk melanjutkan pembicaraan perdamaian.

Perkembangan di Daerah Teluk

Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan penangkapan sekelompok individu yang diduga terkait dengan Iran. Pihak berwenang menyatakan bahwa para tersangka dituduh merencanakan serangan dan menyalurkan dana ke kelompok asing. Di sisi lain, Qatar akan kembali mengizinkan maskapai asing untuk mendarat di bandara utamanya setelah sempat mengalami penangguhan akibat konflik.

Advertisement

Perkembangan dari Amerika Serikat

Presiden Trump kembali menegaskan sikapnya untuk tetap memberlakukan sanksi terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sampai Teheran menyetujui kesepakatan perdamaian. Ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terdampar di teluk tersebut.

Mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk urusan Semenanjung Arab, Daniel Benaim, menilai bahwa Amerika Serikat belum berhasil mencapai tujuan utamanya terhadap Iran. Benaim memperingatkan bahwa AS kini berada dalam posisi militer dan diplomatik yang lebih kompleks dibandingkan saat awal perang.

Sementara itu, Presiden Trump melontarkan kritik terhadap sejumlah media berita, menuduh mereka meremehkan serangan AS terhadap Iran dan mengklaim kemenangan dalam perang tersebut. Ia juga membantah sejumlah pemberitaan yang dianggapnya sebagai berita palsu.

Perkembangan Israel, Lebanon, dan Gaza

Israel menuntut pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah, menggunakan keberadaan mereka di Lebanon Selatan sebagai alat tawar-menawar, meskipun kekhawatiran akan ketidakstabilan kawasan tetap ada. Amnesty International juga menyatakan bahwa Israel, bersama dengan AS dan Rusia, berkontribusi terhadap penurunan hak asasi manusia global.

Jumlah korban tewas di Lebanon terus meningkat. Serangan Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 2.387 orang sejak pertempuran meningkat enam minggu lalu. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa pembicaraan yang direncanakan dengan Israel bersifat terpisah dari negosiasi Iran-AS.

Mengenai situasi di Gaza, meskipun telah ada gencatan senjata pada Oktober lalu, operasi Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 780 warga Palestina dalam serangan terbaru.

Dampak Global

Harga minyak global dilaporkan melonjak pada Senin (20/4/2026) setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz dan Angkatan Laut AS menyita sebuah kapal kargo Iran di dekat jalur air vital tersebut. Sementara itu, Belanda mengalokasikan lebih dari 1,1 miliar dolar AS (sekitar Rp 18,8 triliun per kurs Kamis, 21/4/2026) untuk membantu bisnis dan rumah tangga mengatasi lonjakan biaya bahan bakar yang terkait dengan perang.

Advertisement