Edukasi

Sekolah Tak Ada Sinyal, 2 Siswa SLB Kerjakan Soal TKA di Pinggir Pantai

Advertisement

Dua siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pulau Morotai, Maluku Utara, terpaksa mengerjakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 di pinggir pantai. Keterbatasan sinyal di sekolah memaksa Sitti Aisyah Tuwo dan Shela Hinoke menempuh jarak 10 kilometer ke Pantai Durubai Mototai untuk mengikuti ujian yang dilaksanakan pada Senin (20/4/2026) lalu.

Meski harus berhadapan dengan angin laut yang menerpa, kedua siswa tersebut menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Sitti Aisyah Tuwo, salah satu peserta TKA jenjang SDLB, mengaku justru merasa nyaman dengan suasana pantai.

“Saya tetap merasa nyaman di sini karena tempat saya mengikuti TKA adalah tempat yang menyenangkan. Udaranya sejuk karena dekat dengan laut,” kata Sitti Aisyah Tuwo.

Ia menambahkan, suasana baru dan hembusan angin pantai justru membantunya untuk lebih fokus menyelesaikan soal-soal TKA.

“Jadi lebih fokus malah untuk mengerjakan soal,” tambah Sitti.

Rasa nyaman dan fokus serupa juga dirasakan oleh Shela Hinoke. Ia mengaku sempat gugup di awal ujian, namun berkat latihan soal yang rutin, ia merasa lebih percaya diri.

“Sebenarnya sempat gugup tadi takut tidak bisa menyelesaikan soal. Tapi, karena sudah banyak melakukan latihan-latihan soal sebelumnya jadi lebih mudah,” ujar Shela.

Shela berharap hasil TKA kali ini memuaskan sehingga ia dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. “Jadi, orang tua dan guru senang,” harapnya.

Tantangan Ekstra bagi Sekolah

Kepala SLBN Pulau Morotai, Nilla Timbuleng, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA di luar sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi pihaknya. Keterbatasan jaringan di lingkungan sekolah mengharuskan pengaturan transportasi, waktu, serta pendampingan siswa secara ekstra.

Advertisement

“Hal ini sebenarnya menjadi tantangan tersendiri karena sekolah harus mengatur transportasi, waktu keberangkatan, serta pendampingan siswa secara ekstra,” kata Nilla Timbuleng.

Sejak pagi, pihak sekolah telah menjemput siswa dari rumah masing-masing untuk diantar ke lokasi ujian. Guru mendampingi siswa menuju lokasi, memastikan perangkat dan jaringan siap sebelum ujian dimulai.

“Jadi, secara teknis siswa didampingi oleh guru menuju lokasi ujian, kemudian dilakukan pengecekan perangkat dan jaringan sebelum ujian dimulai,” terang Nilla.

Khusus bagi siswa tunarungu, para guru memastikan instruksi ujian dipahami dengan jelas melalui metode pembelajaran yang disesuaikan.

“Jumlah siswa kami yang mengikuti TKA untuk SD LB ini ada dua. Jadi kami bisa handle dengan baik mereka dan meskipun tidak di sekolah tapi pelaksanaanya bisa berjalan dengan lancar,” tambah Nilla.

Sebelum pelaksanaan, sekolah juga telah melakukan berbagai persiapan, termasuk memberikan pembelajaran tambahan dan latihan soal. Koordinasi dengan orang tua siswa juga dilakukan mengingat pelaksanaan ujian harus dilakukan di luar lingkungan sekolah.

“Kami juga melakukan koordinasi dengan orang tua siswa sebelum pelaksanaan TKA ini karena kami kan harus membawa siswa di luar sekolah untuk mengerjakan TKA-nya,” tambah Nilla.

Advertisement