BULELENG, KOMPAS.com – Pemerintah Kabupaten Buleleng, Bali, menghadapi tantangan serius terkait kondisi infrastruktur jalan. Data terbaru menunjukkan bahwa panjang jalan rusak di wilayah ini mencapai 275 kilometer, dengan mayoritas atau sekitar 45 persen di antaranya dikategorikan sebagai rusak berat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, mengungkapkan rincian tersebut pada Selasa (21/4/2026) di Buleleng. Ia menjelaskan bahwa penentuan prioritas perbaikan jalan didasarkan pada empat indikator krusial.
Indikator tersebut meliputi tingkat keparahan kerusakan, peran jalan sebagai penghubung antarwilayah, kontribusinya terhadap sektor ekonomi dan pertanian, serta kemampuannya dalam membuka akses ke daerah-daerah terisolasi.
“Keempat itu jadi indikator kami untuk penetapan pembangunan jalan yang dieksekusi di lapangan,” ujar Adiptha. Ia menambahkan, “Karena memang butuh banyak biaya. Satu kilometer jalan rutnik butuh Rp 2 miliar lebih. Jadi memang dibutuhkan banyak anggaran untuk menangani.”
Untuk mengatasi persoalan ini, Dinas Pekerjaan Umum telah membentuk dua tim khusus yang bertugas melakukan pemeliharaan jalan. Tim ini difokuskan pada kawasan perkotaan dan perdesaan, dengan tugas utama memperbaiki kerusakan ringan agar tidak meluas.
“Ada 2 tim. Tim khusus di Kota Singaraja untuk pemeliharaan jalan. Yang kedua, tim di luar kota. Setiap hari bergerak untuk menambal jalan. Untuk menjaga umur jalan, mengurangkan kecelakaan, dan biar nggak rusak melebar ke mana-mana,” jelas Adiptha.
Desakan DPRD untuk Perbaikan Lebih Agresif
Menanggapi kondisi tersebut, Komisi II DPRD Kabupaten Buleleng, yang membidangi pekerjaan umum, mendesak pemerintah daerah untuk mengambil langkah yang lebih agresif dalam pemeliharaan jalan. Desakan ini muncul mengingat keterbatasan anggaran yang dihadapi, sementara tingkat kerusakan jalan terus bertambah setiap tahun.
Ketua Komisi II DPRD Buleleng, Wayan Masdana, menyoroti lambatnya progres perbaikan. Ia menyebutkan bahwa dari ratusan kilometer jalan yang mengalami kerusakan pada tahun 2025, penanganan baru menyentuh sebagian kecil.
“Di Buleleng masih ada 300 kilometer jalan pada tahun lalu itu ada jalan rusak berat dan ringan. Baru tertangani tahun lalu 25 kilometer dan kalau rata-rata penanganan dengan perencanaan dan belum ada perubahan anggaran sampai tahun ini itu hanya bisa 30 kilometer. Berarti kalau kita menunggu sampai dengan 200 kilometer, berarti perlu 10 tahun,” ungkap Masdana.
Menurut pandangannya, pendekatan perbaikan jalan secara total dinilai kurang efektif jika tidak diimbangi dengan pemeliharaan rutin. Ia menekankan pentingnya respons cepat terhadap kerusakan ringan agar tidak berkembang menjadi kerusakan berat yang membutuhkan biaya perbaikan jauh lebih besar.






