Partai Golkar mengimbau seluruh kadernya untuk bersikap tenang dan menahan diri dalam menyikapi kasus penusukan yang merenggut nyawa Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara, Nus Kei. Instruksi ini disampaikan menyusul peristiwa tragis yang terjadi di Bandara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara.
“Semua kader diharapkan untuk tetap tenang, tetap sabar, dan kita serahkan kepada ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, saat ditemui di Gedung DPP Partai Golkar, Jakarta, pada Selasa (21/4/2026).
Ace menegaskan bahwa pihak yang terbukti bertanggung jawab atas tindakan penusukan tersebut harus diproses hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ia juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kehilangan salah satu kader terbaik partai.
“Prinsipnya kita sangat prihatin dan menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara,” ucap Ace.
Langkah Organisatoris DPD Golkar
Menyikapi kekosongan posisi kepemimpinan di DPD Golkar Maluku Tenggara, Ace Hasan Syadzily menjelaskan bahwa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat provinsi akan segera mengambil langkah-langkah organisatoris. Hal ini penting untuk memastikan kelancaran roda organisasi partai.
“Karena ketuanya meninggal dunia, nanti DPD Provinsi Maluku akan menunjuk pelaksana tugas (Plt) dan sesegera mungkin melaksanakan musyawarah daerah,” jelasnya.
Langkah penunjukan pelaksana tugas dan penyelenggaraan musyawarah daerah ini, lanjut Ace, krusial untuk menjaga kondusivitas situasi dan memastikan agenda Musyawarah Daerah (Musda) di Maluku Tenggara dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Kronologi Penusukan Nus Kei
Peristiwa nahas ini bermula ketika almarhum Nus Kei tiba di Bandara Karel Sadsuitubun pada Minggu (19/4/2026) siang, sekitar pukul 11.10 WIT. Ia baru saja mendarat dari Bandara Internasional Pattimura, Ambon, Maluku, untuk memenuhi undangan Musda Golkar.
Saat tiba di area pintu keluar bandara dan hendak bertemu keluarganya, Nus Kei tiba-tiba ditikam oleh seorang pria yang tidak dikenal (OTK). Pelaku digambarkan sebagai seorang pria yang mengenakan jaket merah dan menggunakan masker.
Dalam insiden tersebut, kakak kandung Nus Kei, Antonius Rumatora, sempat berusaha membanting pelaku. Namun, pelaku berhasil melawan dan melarikan diri. Setelah kejadian, Nus Kei sempat berlari masuk ke dalam terminal bandara sebelum akhirnya terjatuh dan mendapat pertolongan awal dari petugas bandara.
Nus Kei kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk mendapatkan perawatan medis. Sayangnya, nyawa korban tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit akibat pendarahan hebat dan luka pada organ vital.
Motif Balas Dendam
Kepala Bidang Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan awal mengindikasikan motif di balik penusukan Nus Kei adalah dendam.
“Berdasarkan pengakuan pelaku, motif pelaku adalah balas dendam,” kata Rositah kepada wartawan pada Senin (20/4/2026).
Lebih lanjut, Rositah menjelaskan bahwa kedua pelaku dendam karena korban, Nus Kei, diduga kuat sebagai otak di balik pembunuhan terhadap saudara kedua pelaku. Korban pembunuhan tersebut bernama Fenansius Wadanubun alias Dani Hoat.






