Regional

Hari Kartini, Tempat Sewa Baju Adat di Salatiga Laris Manis

Advertisement

SALATIGA, Indonesia – Momen peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026), membawa berkah tersendiri bagi usaha penyewaan baju adat di Puri Yudistira Regency V/4, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga. Tempat yang dikelola Debora Herlin Suryandari (51) ini dilaporkan mengalami lonjakan pelanggan yang signifikan.

Herlin, sapaan akrabnya, terlihat sibuk melayani pelanggan. Tangannya lincah mengaplikasikan riasan wajah pada seorang anak perempuan yang bersiap mengikuti upacara peringatan Hari Kartini di sekolahnya. Usaha yang telah dirintis Herlin sejak tahun 2012 ini tidak hanya menyediakan baju adat, tetapi juga beragam kostum lainnya.

Koleksi yang ditawarkan Herlin kini mencapai sekitar 500 buah, mencakup berbagai jenis dan ukuran. “Di sini ada baju adat, jas, baju profesi, baju mayoret, dan fashion show,” ungkapnya.

Lonjakan Permintaan Saat Momen Khusus

Herlin mengakui bahwa momen-momen hari besar selalu mendatangkan peningkatan omzet yang signifikan. “Memang kalau ada hari besar khusus seperti Hari Kartini, peringatan 17 Agustus, karnaval, atau lomba fashion show, penyewa meningkat jumlahnya. Bahkan bisa 300-an baju yang disewa kalau ada yang rombongan,” jelas Herlin.

Harga sewa baju di tempatnya bervariasi, mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 200.000, tergantung pada jenis dan tingkat kelangkaan kostum yang dipilih.

Baju Adat Indonesia Timur Jadi Primadona

Menurut Herlin, pakaian adat yang paling diminati oleh para penyewa adalah busana dari wilayah Indonesia Timur. “Mungkin karena unik dan terlihat berbeda, baju Papua, NTT, dan Toraja banyak dipilih. Tapi ada juga yang memilih baju adat Batak dan Dayak, termasuk juga baju Jawa,” ujarnya.

Advertisement

Tantangan Bisnis Sewa Kostum

Di balik ramainya pesanan, Herlin mengungkapkan tantangan terbesar dalam bisnis penyewaan baju adat. “Aturannya setelah dipakai, dikembalikan sesuai hari. Namun kadang ada yang molor, sampai harus diingatkan. Padahal ada penyewa lain yang sudah menunggu,” keluhnya.

Selain itu, masalah kerusakan kostum juga menjadi perhatian. “Selain itu kalau ada kerusakan, baju adat kan aksesorinya banyak. Meski kerusakan menjadi tanggung jawab penyewa, kita juga harus segera mencari pengganti agar kelengkapan baju adat tetap utuh,” tambahnya.

Untuk menjaga daya saing dan memenuhi permintaan pasar, Herlin terus berupaya memperbarui koleksinya. “Kadang diskusi juga, ada penyewa ingin baju yang model seperti ini dengan aksesori begini, kita cari. Atau minta yang seragam dengan jenis tertentu, juga kita carikan,” tuturnya.

Efisiensi dan Fleksibilitas Sewa

Faramita, salah seorang pelanggan, menyatakan alasannya memilih menyewa baju adat dibandingkan membeli untuk putrinya. “Kalau sewa kan lebih ringkas, setelah dipakai langsung dikembalikan. Apalagi anak saya juga ikut kursus modelling, sehingga harus sering berganti model menyesuaikan tema lomba yang berganti-ganti,” katanya.

Advertisement