JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang meresahkan, perusahaan penyedia layanan transportasi daring Maxim Indonesia mengambil langkah tak biasa. Maxim memilih untuk tidak menaikkan tarif bagi para penumpangnya, melainkan memperkuat program insentif bagi para mitra pengemudi.
Keputusan ini diambil sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem transportasi daring, agar pengguna tetap merasakan tarif yang terjangkau sekaligus memastikan pendapatan mitra pengemudi tidak tergerus oleh lonjakan biaya operasional.
Development Director Maxim Indonesia, Dirhamsyah, menjelaskan bahwa pihaknya mengedepankan efisiensi operasional dan dukungan langsung kepada pengemudi sebagai solusi utama. “Struktur tarif Maxim saat ini tetap tidak berubah. Kami berupaya menjaga harga tetap terjangkau bagi penumpang sekaligus memastikan pendapatan pengemudi tidak tergerus,” ujar Dirhamsyah kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Optimalisasi Teknologi dan Insentif Pengemudi
Maxim mengoptimalkan berbagai fitur teknologi untuk menekan biaya operasional. Salah satunya adalah sistem penugasan otomatis (auto-assignment) yang dirancang untuk memberikan pesanan kepada pengemudi yang posisinya terdekat dengan calon penumpang. Tujuannya jelas, meminimalkan perjalanan tanpa penumpang (kosong) yang berujung pada penghematan konsumsi BBM.
Selain itu, perusahaan juga menggulirkan sejumlah program insentif yang menyasar langsung para mitra pengemudi. Salah satu contohnya adalah program bantuan voucher BBM gratis yang saat ini telah diterapkan bagi mitra pengemudi perempuan di Jakarta, dan direncanakan akan diperluas ke wilayah lain.
Dirhamsyah menambahkan, potongan komisi aplikasi yang relatif rendah serta program pengemudi prioritas turut memberikan keuntungan tambahan bagi mitra. “Kami juga tidak menaikkan komisi aplikasi, bahkan memberikan berbagai insentif agar pengemudi tetap dapat mempertahankan penghasilannya di tengah kenaikan biaya,” jelasnya.
Strategi ini, menurut Dirhamsyah, merupakan pendekatan seimbang. Perusahaan rela menekan margin keuntungan demi menjaga kondisi yang kondusif bagi seluruh pihak. “Prioritas kami adalah menjaga keseimbangan antara tarif yang terjangkau dan keberlangsungan pendapatan mitra. Karena itu, kami lebih fokus pada penguatan program insentif dibandingkan melakukan penyesuaian tarif secara mendadak,” tegasnya.
Dampak WFH ASN dan Kolaborasi dengan Pemerintah
Di sisi lain, Dirhamsyah juga menyoroti potensi dampak kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) terhadap sektor transportasi daring. Ia memprediksi, pembatasan mobilitas dapat berimplikasi pada penurunan jumlah pesanan.
“Kami melihat kebijakan pembatasan mobilitas, termasuk WFH, bisa berdampak pada turunnya jumlah order. Hal ini tentu berpengaruh pada pendapatan pengemudi yang bergantung pada aktivitas transportasi harian,” ujarnya.
Meski demikian, Maxim menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam menciptakan sistem transportasi yang efisien dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang diusulkan adalah mendorong integrasi dengan transportasi publik, sebagai bagian dari gerakan penghematan energi di tengah dinamika global.
“Maxim juga terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut terkait kebijakan yang berimbang dan dapat mendukung seluruh ekosistem, baik bagi masyarakat, mitra pengemudi, maupun sektor transportasi secara keseluruhan,” tegas Dirhamsyah.
Lonjakan Harga BBM Nonsubsidi
Kenaikan harga BBM nonsubsidi memang menjadi perhatian serius. Sejak Sabtu (18/4/2026), harga sejumlah produk unggulan seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami lonjakan signifikan.
Berdasarkan data PT Pertamina Patra Niaga, kenaikan paling tajam terjadi pada Dexlite dan Pertamina Dex. Keduanya mengalami kenaikan hingga Rp 9.400 per liter dibandingkan tarif pada awal April 2026.
Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamina Dex kini menembus Rp 23.900 per liter, melonjak dari Rp 14.500. Sementara itu, Dexlite naik menjadi Rp 23.600 per liter dari sebelumnya Rp 14.200.
Pertamax Turbo pun tidak luput dari kenaikan, dengan harga jual mencapai Rp 19.400 per liter, bertambah Rp 5.600 dari posisi sebelumnya Rp 13.100 per liter. Kondisi ini menandai tren kenaikan harga BBM nonsubsidi yang cukup terasa bagi para penggunanya.
Pemerintah sendiri telah memberlakukan kebijakan WFH bagi ASN instansi pusat dan daerah setiap hari Jumat, mulai 1 April 2026, sebagai upaya efisiensi energi dan anggaran negara. Kebijakan ini diatur melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (SE MenPAN-RB) dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (SE Mendagri).






