John Ternus, yang baru saja ditunjuk sebagai CEO baru Apple, dihadapkan pada tugas krusial untuk membuktikan strategi kecerdasan buatan (AI) perusahaan dapat bersaing dengan para raksasa teknologi lainnya. Kepergian Tim Cook dari posisi puncak, meskipun sukses, meninggalkan celah signifikan dalam kepemimpinan di ranah AI.
Ternus kini harus menavigasi berbagai tantangan yang dihadapi Apple, termasuk kompleksitas rantai pasokan akibat ketegangan geopolitik dan lonjakan harga memori yang dipicu oleh permintaan besar dari pengembangan AI. Fokus utama Ternus dalam peran barunya adalah mengarahkan Apple untuk lebih mendalami bidang AI, sebuah area di mana perusahaan ini sebelumnya mengambil pendekatan pengembangan yang hemat modal.
Pendekatan Apple ini berbeda dengan langkah agresif yang diambil oleh Microsoft, Google, Amazon, dan Meta. Meskipun Apple menginvestasikan ratusan miliar dolar AS per tahun dalam belanja modal untuk pusat data dan chip AI, perusahaan ini masih mengandalkan model dasar AI dari pihak ketiga, seperti Gemini milik Google, untuk mendukung fitur-fitur AI-nya, termasuk peningkatan pada Siri yang dijadwalkan rilis akhir tahun ini.
Pada tahun 2024, Apple meluncurkan Apple Intelligence, yang menawarkan berbagai fitur seperti generator gambar, pengubah teks, kemampuan meringkas notifikasi, dan integrasi dengan ChatGPT dari OpenAI. Meskipun respons konsumen bervariasi, penjualan iPhone tetap kuat, dengan pengguna memiliki akses ke berbagai pilihan AI dari perusahaan lain di perangkat mereka.
Apple tampaknya bertaruh bahwa beban kerja AI yang berat di masa depan akan dijalankan pada chip yang tertanam di dalam ponsel. Keunggulan ini didukung oleh integrasi kemampuan AI pada perangkatnya sejak tahun 2017.
Masa Depan AI Melalui Perangkat Terintegrasi
Asisten Profesor Manajemen Universitas Notre Dame memproyeksikan bahwa Apple kemungkinan besar akan tetap teguh pada keyakinannya mengenai masa depan AI. “Dengan memilih pemimpin perangkat keras seperti John Ternus, Apple mungkin memberi sinyal bahwa mereka masih percaya masa depan AI akan berjalan melalui perangkat yang terintegrasi erat, bukan hanya perangkat lunak,” ujar sumber tersebut, mengutip dari CNBC, Selasa (21/4/2026).
Sektor iPhone tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi Apple. Pada akhir 2025, pendapatan dari segmen ini melonjak 23% secara tahunan menjadi 85,3 miliar dolar AS, didorong oleh penjualan model terbaru, iPhone 17, yang dirilis September tahun lalu.
Perangkat keras yang didukung AI diprediksi akan mendominasi arah perkembangan pasar, menggabungkan perangkat pribadi, robotika, komputasi spasial, dan inovasi yang belum terungkap. Apple dikabarkan tengah mempercepat pengembangan perangkat elektronik dengan sentuhan AI, seperti kacamata pintar, liontin, hingga AirPods dengan kamera.
Tantangan Layanan Bisnis dan Lanskap AI Generatif
John Ternus juga akan menghadapi tantangan dalam pengembangan area layanan bisnis Apple. Saat ini, perusahaan sangat bergantung pada pendapatan dari langganan AppleCare, iCloud, Apple TV+, dan penggunaan Apple Pay oleh pengguna iPhone. Selain itu, Apple juga berpotensi meraup keuntungan dari kemitraan dengan penyedia layanan AI generatif dan chatbot seperti ChatGPT dan Claude.
Analis Forrester, Dipanjan Chatterjee, memperingatkan bahwa beberapa tahun ke depan akan menjadi periode yang bergejolak bagi Apple. “Telah terjadi begitu banyak perubahan dalam cara konsumen berinteraksi dengan teknologi, khususnya dengan AI generatif,” katanya.
Sebagai informasi, John Ternus resmi ditunjuk sebagai CEO baru Apple, menggantikan Tim Cook yang akan beralih menjadi executive chairman. Transisi kepemimpinan ini diumumkan perusahaan pada April 2026 dan dijadwalkan efektif mulai 1 September 2026. Langkah ini menandai perubahan besar dalam jajaran pimpinan perusahaan teknologi paling bernilai di dunia tersebut.






