Lestari

Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global

Advertisement

Hampir sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) global, setara dengan lebih dari 25 triliun Euro atau sekitar Rp512,7 kuadriliun, hilang setiap tahunnya akibat pemborosan energi dan sumber daya. Nilai kerugian ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi sirkular dalam menyelamatkan sebagian besar nilai ekonomi yang terbuang percuma.

Demikian temuan dari laporan terbaru Circularity Gap Report yang dirilis oleh lembaga think tank Circle Economy bekerja sama dengan Deloitte Belanda. Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa hilangnya nilai ekonomi ini bukan sekadar isu kebetulan, melainkan berakar pada masalah struktur dan sistem ekonomi yang ada saat ini.

Alvaro Conde, pimpinan laporan sekaligus penulis utama penelitian, menyatakan, “Sebagian besar hilangnya nilai ini bukan sekadar masalah kecil atau kebetulan, melainkan karena masalah struktur dan sistem yang ada.”

Model Ekonomi yang Boros

Model ekonomi yang berlaku saat ini cenderung dirancang untuk mengejar keuntungan maksimal tanpa mempertimbangkan dampak terhadap manusia dan bumi. Hal ini berujung pada peningkatan eksploitasi sumber daya alam, pemanfaatan barang yang tidak maksimal, serta penumpukan sampah.

Laporan tersebut menekankan bahwa tolok ukur ekonomi umum seperti PDB tidak memperhitungkan upaya penghematan nilai dan mengabaikan masalah sampah serta habisnya sumber daya alam. Akibatnya, kerugian ekonomi yang signifikan sering kali luput dari perhatian dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Berbeda dengan laporan sebelumnya yang lebih memfokuskan pada “Metrik Sirkularitas” (persentase bahan daur ulang atau penggunaan kembali yang pada tahun 2025 hanya mencapai 6,9 persen), edisi 2026 ini menggeser fokus ke sudut pandang ekonomi. Circle Economy menyoroti bagaimana ekonomi sirkular menawarkan peluang bagi bisnis dan negara untuk kembali meraih keuntungan efisiensi di tengah lonjakan penggunaan bahan baku dan stagnasi produktivitas sumber daya dunia selama satu dekade terakhir.

Peluang Ekonomi Sirkular

Circle Economy mengukur “Kesenjangan Nilai” dengan mengevaluasi dua aspek: nilai fungsional (manfaat material dan produk beserta harga pasarnya) serta nilai yang tercipta (dampak lingkungan dan sosial, baik positif maupun negatif).

Laporan ini mengidentifikasi lima penyebab utama hilangnya nilai ekonomi:

Advertisement

  • Kerugian selama proses pengolahan.
  • Pemborosan energi.
  • Sisa dan pemborosan makanan.
  • Sampah dari barang yang sudah tidak terpakai.
  • Penyusutan aset modal.

Kerugian nilai global terbesar, diperkirakan mencapai 10 triliun Euro (sekitar Rp201.860 triliun), berasal dari sampah akhir pakai. Ini terjadi ketika produk atau bahan dibuang tanpa dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.

Menurut WRAP, jumlah sampah diperkirakan akan melonjak lebih dari 80 persen pada tahun 2050 dibandingkan tahun 2020. Tanpa tindakan nyata untuk mendorong ekonomi sirkular, potensi kerugian nilai ekonomi akan terus berlanjut.

Bidang lain yang disorot adalah pemborosan energi, dengan nilai kerugian mencapai 8,7 triliun Euro per tahun (sekitar Rp175.618 triliun). Angka ini mencakup energi yang hilang akibat tumpahan minyak, pembakaran gas sisa, inefisiensi saluran transmisi, hingga panas yang terbuang di industri berat.

Penyusutan aset modal, yang merujuk pada penurunan nilai infrastruktur dan mesin akibat perawatan yang buruk, ketinggalan zaman, atau pemanfaatan yang tidak maksimal, diperkirakan menyebabkan kerugian sebesar 5,2 triliun Euro (sekitar Rp104,9 kuadriliun).

Sementara itu, limbah makanan dan kerugian proses pengolahan masing-masing diperkirakan bernilai lebih dari 650 miliar Euro (sekitar Rp13,1 kuadriliun) dan 904 miliar Euro (sekitar Rp18,2 kuadriliun).

Circle Economy tidak hanya menyoroti dampak buruk pemborosan ekonomi terhadap lingkungan, tetapi juga menekankan potensi finansial besar yang dapat diraih negara dan perusahaan melalui penerapan praktik ekonomi sirkular. Laporan tersebut menegaskan bahwa penggunaan sumber daya yang sirkular dapat meningkatkan produktivitas, ketahanan rantai pasok, serta kesejahteraan manusia dan bumi.

Advertisement