Regional

Soal Pelajar di Bantul Tewas Diduga Dikeroyok, Disdikpora DIY Akui Pengawasan di Luar Sekolah Sulit Dilakukan

Advertisement

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan terhadap pelajar di luar jam sekolah, menyusul insiden meninggalnya seorang pelajar asal Bantul berinisial IDS (16) yang diduga menjadi korban pengeroyokan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, menyampaikan belasungkawa atas peristiwa tragis tersebut. Ia mengakui bahwa meskipun berbagai program pencegahan kekerasan dan pembinaan karakter telah berjalan di sekolah-sekolah, pengawasan di luar lingkungan sekolah masih menjadi titik lemah.

“Secara umum, program pencegahan kekerasan dan pembinaan karakter di sekolah-sekolah DIY sudah berjalan melalui penguatan pendidikan karakter, pembentukan tim pencegahan dan penanganan kekerasan di Satuan Pendidikan (TPPKSP), serta implementasi regulasi terbaru seperti Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026,” ujar Setiadi saat dihubungi, Selasa (21/4/2026).

Namun, ia menambahkan, “Fakta bahwa masih terjadi kasus seperti ini menunjukkan bahwa pengawasan di luar jam sekolah masih menjadi titik lemah.”

Evaluasi dan Penguatan Sinergi

Setiadi juga menyoroti bahwa internalisasi nilai-nilai karakter dinilai belum merata. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mengatasi persoalan ini.

“Ke depan, kami akan memperkuat pendekatan yang lebih preventif, kolaboratif, dan berbasis deteksi dini,” katanya.

Disdikpora DIY juga siap memberikan sanksi administratif atau akademis kepada pelaku jika terbukti merupakan pelajar aktif. “Kami menghormati dan menunggu proses hukum yang sedang berjalan. Prinsipnya, apabila terbukti pelaku adalah pelajar aktif, maka akan dikenakan sanksi secara berlapis,” tegas Setiadi.

Sanksi tersebut, menurutnya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, meliputi sanksi disiplin dari sekolah sesuai tata tertib dan regulasi, pembinaan khusus yang terstruktur dan terukur, sanksi administratif, hingga kemungkinan pemindahan atau pengembalian kepada orang tua sebagai langkah terakhir jika pelanggaran dinilai sangat berat.

Advertisement

“Perlu diteguhkan, pendekatan kami tidak semata-mata menghukum, tetapi juga memastikan ada proses pembinaan dan rehabilitasi, tanpa mengabaikan rasa keadilan bagi korban,” jelas Setiadi.

Strategi Pencegahan Geng Pelajar

Lebih lanjut, Disdikpora DIY tengah menyusun strategi konkret untuk mencegah fenomena geng pelajar dan aktivitas berisiko lainnya. Setiadi mengakui bahwa penanganan masalah geng sekolah tidak bisa dilakukan oleh sekolah semata, sehingga membutuhkan strategi khusus.

Strategi tersebut meliputi:

  • Penguatan kolaborasi lintas sektor dengan kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat.
  • Optimalisasi peran TPPKSP dan pembinaan kesiswaan untuk deteksi dini perilaku berisiko.
  • Peningkatan keterlibatan orang tua, terutama dalam pengawasan aktivitas di luar jam sekolah.
  • Pembatasan dan pengawasan kegiatan siswa di malam hari melalui koordinasi dengan sekolah dan komite.
  • Pengembangan kegiatan positif dan produktif bagi pelajar agar tidak terjerumus dalam kelompok negatif.

“Patroli dan pemetaan wilayah rawan bersama aparat terkait. Kami ingin menegaskan bahwa pencegahan kekerasan pelajar adalah tanggung jawab bersama. Sinergi semua pihak menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas Setiadi.

Sebelumnya, seorang pelajar asal Payungan, Ciren, Triharjo, Pandak, Bantul, berinisial IDS (16) meninggal dunia pada Minggu (19/4/2026) setelah menjalani perawatan intensif akibat dugaan pengeroyokan.

Orang tua korban, Sugeng Riyanto, menceritakan awal mula peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (14/4/2026) sekitar pukul 21.30 WIB. “Ada dua orang pakai Nmax kalau nggak salah boncengan jemput anak saya sekitar jam 10 malam,” kata Sugeng kepada wartawan di rumah duka, Pandak, Bantul, Senin (20/4/2026). Sugeng mendapatkan informasi dari rekan anaknya bahwa IDS dibawa ke belakang salah satu SMAN di Bambanglipuro, Bantul.

Advertisement