Produksi gula nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami peningkatan signifikan, bahkan berpotensi menciptakan surplus untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Namun, di balik angka optimis tersebut, tantangan besar masih membayangi pemenuhan kebutuhan sektor industri yang masih defisit.
Hasil taksasi awal giling Gula Kristal Putih (GKP) 2026, yang dihimpun dari seluruh pabrik gula se-Indonesia di Surabaya, memprediksi produksi gula nasional akan mencapai 3,04 juta ton. Angka ini didukung oleh perluasan areal panen tebu existing seluas 576.538 hektar.
Dr. Abdul Roni Angkat, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa produktivitas GKP diperkirakan mencapai rata-rata 5,28 ton per hektar, sementara produktivitas tebu sendiri berada di angka 70,87 ton per hektar. “Rata-rata rendemen nasional juga diproyeksikan mencapai 7,45 persen, yang menunjukkan peningkatan efisiensi dalam proses pengolahan tebu menjadi gula,” ujar Dr. Abdul Roni Angkat kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Dengan total produksi yang diproyeksikan mencapai 3,04 juta ton, capaian tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi masyarakat yang berkisar pada angka 2,8 juta ton. “Dengan demikian, terdapat potensi surplus sekitar 0,2 juta ton untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga,” imbuhnya.
Kondisi ini dinilai sebagai sinyal positif bagi stabilitas pasokan dan harga gula konsumsi di dalam negeri. Peningkatan ini sejalan dengan mulai terlihatnya hasil dari program peningkatan produktivitas tebu dan perbaikan kinerja industri gula nasional.
Kebutuhan Industri Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Meskipun surplus pada segmen konsumsi rumah tangga mulai tampak, kebutuhan gula untuk sektor industri masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Pada tahun 2026, kebutuhan gula industri diperkirakan mencapai 3,4 juta ton.
Angka tersebut jauh melampaui pasokan GKP yang selama ini lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan industri ini menjadi pekerjaan rumah yang krusial bagi pemerintah dan para pelaku usaha. Solusi yang dibutuhkan meliputi peningkatan produksi, efisiensi, hingga strategi impor yang terukur.
Peran BUMN Pangan Diharapkan Mendorong Swasembada
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah terus berupaya memperkuat sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan untuk mempercepat target swasembada gula nasional. Upaya ini tercermin dari kunjungan kerja Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, ke PT Sinergi Gula Nusantara.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka Rapat Koordinasi Percepatan Swasembada Pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya peran BUMN pangan dalam mencapai target swasembada. “Bapak ibu, kenapa kami merasa swasembada telah dicapai itu atas BUMN pangan, PTPN. Kami diberi target oleh Presiden dan diminta laporan secara rutin kepada Bapak Presiden untuk BUMN pangan, karena BUMN pangan yang menjadi motor penggerak,” ujar Andi Amran Sulaiman.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi berbagai program strategis, mulai dari peningkatan produktivitas hingga optimalisasi peran holding perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Komitmen PT Sinergi Gula Nusantara
Sebagai bagian dari holding perkebunan PTPN, PT Sinergi Gula Nusantara didorong untuk terus meningkatkan kontribusinya dalam sektor gula nasional. Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, menegaskan komitmen perusahaan dalam upaya ini.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri gula nasional sebagai bagian dari kontribusi nyata BUMN pangan dalam mewujudkan kemandirian pangan Indonesia,” pungkas Mahmudi.






