Money

Akses Pembiayaan Jadi Kunci UMKM Lebih Tahan Tekanan Ekonomi, Pendapatan Naik hingga 63 Persen

Advertisement

JAKARTA, Indonesia – Akses terhadap pembiayaan menjadi faktor krusial yang memungkinkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bertahan di tengah gempuran tekanan ekonomi. Riset terbaru dari Amartha menunjukkan, mayoritas UMKM yang berhasil mengakses modal mengalami lonjakan pendapatan yang signifikan.

Sustainability Report Amartha 2025 mencatat bahwa sebanyak 89 persen UMKM binaan Amartha mengalami peningkatan pendapatan. Rata-rata pertumbuhan pendapatan mereka bahkan mencapai 63 persen setelah mendapatkan kucuran dana.

Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha, menegaskan bahwa pembiayaan yang tepat sasaran mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata, terutama bagi para pelaku usaha di lapisan terbawah.

“Ini menegaskan bahwa pembiayaan inklusif bukan hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan,” ujar Andi dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).

Dampak kumulatifnya telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari total 3,9 juta UMKM binaan Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.

Kesenjangan Pembiayaan UMKM Masih Lebar

Meski demikian, jurang pembiayaan atau financial gap bagi UMKM di Indonesia masih menganga lebar. Proyeksi kebutuhan kredit UMKM pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp 4.300 triliun, namun kapasitas pendanaan yang tersedia baru menyentuh angka Rp 1.900 triliun. Angka ini menyisakan kesenjangan sebesar Rp 2.400 triliun.

Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menilai penguatan akses pembiayaan sebagai salah satu kunci utama dalam mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.

“Masih ada kesenjangan pembiayaan yang menunjukkan banyak pelaku usaha belum terhubung dengan sistem keuangan formal. Ketika akses ini terbuka, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada kemampuan rumah tangga untuk lebih kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi,” jelas Nailul.

Advertisement

Lebih lanjut, Nailul menambahkan bahwa perkembangan teknologi finansial turut berkontribusi pada peningkatan inklusi keuangan. Ia menyebutkan, negara yang mengadopsi teknologi finansial tercatat memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara yang belum.

Kehadiran layanan pinjaman daring juga dinilai efektif dalam memperluas jangkauan keuangan hingga ke pelosok pedesaan dan secara simultan mendorong pertumbuhan ekosistem ekonomi lokal.

“Kehadiran pinjaman daring membuat akses ke layanan keuangan menjadi terbuka lebar dan mendukung program peningkatan inklusi keuangan pemerintah. Di sisi lain, ekosistem keuangan di desa pun terdorong karena adanya pinjaman daring, seperti munculnya agen-agen produk keuangan di desa,” papar Nailul.

Kisah Sukses UMKM di Sumba

Dampak positif dari akses pembiayaan ini turut dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM di lapangan. Salah satunya adalah Mama Redha, seorang nelayan asal Sumba yang kini berhasil mengembangkan usaha warung kelontong sebagai sumber pendapatan utama keluarganya.

Mama Redha bercerita, sebelumnya penghasilan dari hasil lautnya sangat tidak menentu karena bergantung pada kondisi alam. Namun, berkat pembiayaan tanpa agunan yang ia terima, usahanya kini berkembang pesat.

“Berkat modal tanpa agunan dari Amartha, kini saya memiliki warung kelontong yang menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga,” ungkap Mama Redha.

Ke depan, Amartha berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan pembiayaan inklusif. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan UMKM dan meningkatkan daya saing usaha mikro di Indonesia.

Advertisement