FLORES TIMUR – Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Kartini, sekelompok ibu di halaman kantor camat Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (21/4/2026) menunjukkan kebolehan lain. Bukan sekadar merayakan, mereka justru tengah berjuang menjaga warisan leluhur melalui keterampilan menenun. Ibu-ibu dari Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Riangduli ini tak hanya memamerkan teknik memintal benang dan menenun tradisional, tetapi juga berhasil menyabet juara I kategori Mama Penenun tingkat Kecamatan Witihama.
Bagi Imelda Kuna Lamapaha, salah satu anggota tim, kemenangan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang merawat warisan budaya. “Tenun bukan sekadar kain, dia adalah nyawa budaya, identitas, dan warisan leluhur yang wajib dijaga,” tegasnya. Baginya, setiap helai benang yang dirangkai di alat tenun menyimpan cerita tentang asal-usul, hubungan manusia dengan alam, serta jejak langkah para pendahulu. Ia menekankan bahwa perempuan Lamaholot sejatinya adalah penerus “nyawa budaya” ini, dan penting bagi generasi muda untuk tidak tercerabut dari akar budaya di tengah arus modernisasi.
Lebih dari Sekadar Keterampilan
Dalam tradisi masyarakat Lamaholot, menenun memiliki makna yang jauh lebih mendalam, melampaui sekadar keterampilan. Imelda menjelaskan bahwa menenun merupakan penanda kedewasaan seorang perempuan. Gadis yang mampu menenun dan memahami makna kesabaran, ketekunan, serta tanggung jawab, dianggap telah siap memasuki fase kehidupan baru. “Dulu, seorang perempuan belum dianggap dewasa kalau belum bisa menenun. Itu bukan sekadar tradisi, tetapi cara leluhur mendidik perempuan untuk siap menjalani hidup,” tuturnya.
Lebih lanjut, Imelda menyoroti kain kewatek, salah satu bentuk tenun ikat khas Lamaholot yang kaya akan nilai filosofis. Motif-motifnya bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Namun, ia menyampaikan kekhawatiran jika warisan ini tidak dijaga dan diwariskan, maka perlahan akan memudar. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Ini peninggalan leluhur yang tidak ternilai,” ujarnya penuh harap.
Adaptasi dan Digitalisasi Budaya
Menjawab tantangan zaman, Ketua TP PKK Kecamatan Witihama, Maria Gaspar Peni Sanga, menjelaskan bahwa kegiatan bertajuk “Konten Digital Mutiara Lewotanah” dirancang khusus. Menurutnya, tradisi tidak boleh hanya berhenti pada pelestarian, melainkan harus mampu beradaptasi dan dikenal lebih luas, termasuk melalui pemanfaatan media digital. Ia memandang perempuan sebagai pusat kekuatan, penjaga budaya, sekaligus agen perubahan yang mampu membawa nilai-nilai lokal ke panggung global.
Camat Witihama, Yakobus Suban Sugi, mengapresiasi capaian TP PKK Desa Riangduli. Ia menilai keberhasilan ini menunjukkan potensi besar desa, terutama dalam bidang budaya. “Tenun bukan hanya warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan baik,” pungkasnya.






