Regional

Stok Minyakita di Lhokseumawe Menipis, Hanya Cukup untuk 2 Pekan

Advertisement

Stok minyak goreng bersubsidi merek Minyakita di wilayah Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, diprediksi hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama dua pekan ke depan. Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Kota Lhokseumawe menyatakan pihaknya akan segera menerima pasokan tambahan untuk mengantisipasi penipisan stok.

Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Lhokseumawe, Muhammad Iqbal, kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026) menjelaskan, saat ini gudang Bulog masih memiliki stok sebanyak 7.500 kotak Minyakita. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi permintaan di tiga wilayah yang menjadi cakupan kerja Bulog Lhokseumawe, yakni Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Kabupaten Bireuen.

“Dalam waktu dekat kita akan terima tambahan 7.500 kotak lagi,” ujar Iqbal, seraya menambahkan bahwa distribusi Minyakita dilakukan setiap pekan ke pasar induk di masing-masing kabupaten.

Mekanisme Distribusi dan Pengawasan

Iqbal merinci, penyaluran Minyakita kepada para pedagang dilakukan berdasarkan data yang tercatat dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2SP) oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di setiap kabupaten. Sebagai contoh, untuk pekan ini, sebanyak 1.500 kotak Minyakita telah disalurkan kepada pedagang di pasar induk Kabupaten Aceh Utara.

Bulog memastikan harga jual Minyakita sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. “Harga beli di Bulog Rp14.500 per liter dan harga jual Rp15.700 per liter,” jelas Iqbal.

Advertisement

Terkait potensi pelanggaran, Bulog menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada pedagang mitra yang kedapatan menjual Minyakita di atas HET. “Jika terdapat pedagang yang merupakan mitra Bulog menjual di atas harga HET, pihaknya tidak segan menghentikan pasokan ke toko tersebut,” tegasnya. Namun, untuk pedagang yang bukan mitra Bulog, pengawasan berada di luar kewenangan Bulog.

Pergeseran Pilihan Konsumen

Kondisi saat ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen. Masyarakat cenderung memilih Minyakita dibandingkan dengan minyak goreng curah. Perbedaan harga yang signifikan, mencapai sekitar Rp4.000 per liter, menjadi alasan utama di balik tren ini. Sementara itu, minyak goreng curah lebih banyak dimanfaatkan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Untuk mengantisipasi potensi kelangkaan dan lonjakan harga, Bulog bersama dinas perdagangan melakukan pemantauan rutin,” kata Iqbal. Pemantauan tersebut dilakukan secara mingguan di pasar induk dan bulanan di luar area pasar.

Advertisement