ISLAMABAD, KOMPAS.com – Pemerintah Pakistan dilaporkan telah meningkatkan kesiagaan keamanan di ibu kota, Islamabad, sebagai antisipasi gelaran putaran kedua negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, langkah penguncian total belum diterapkan menyusul ketidakpastian kehadiran delegasi Iran.
Jalan akses menuju bandara kini dijaga ketat oleh personel bersenjata yang berpatroli menggunakan truk pikap dan berjaga di pos-pos pemeriksaan. Meski begitu, suasana kota masih relatif normal. Sejumlah tentara terlihat duduk santai, dan toko-toko tetap beroperasi, berbeda dengan situasi saat negosiasi putaran pertama awal bulan ini yang memaksa penutupan paksa.
Seorang pemilik toko kelontong di sebuah stasiun pengisian bahan bakar mengaku mengalami penurunan omzet mingguan hingga 20 persen selama perundingan sebelumnya. “Saya tidak keberatan jika kami harus tutup lagi. Kami berharap mereka datang. Pakistan telah melakukan banyak hal baik untuk dunia,” ujarnya, mengutip laporan The Wall Street Journal.
Sebagai bagian dari persiapan, otoritas Pakistan telah meminta Hotel Serena, lokasi pertemuan putaran pertama, untuk menangguhkan operasional bagi tamu umum. Pemberitahuan ini telah disampaikan kepada para tamu hotel. Dua hotel mewah lainnya, Marriott dan Movenpick, juga dilaporkan ditutup untuk publik dengan alasan serupa. Pasukan keamanan yang sempat ditarik dari jalanan kota kini telah dikerahkan kembali.
Di kota kembar Islamabad, Rawalpindi, universitas-universitas telah diinstruksikan untuk beralih ke metode pembelajaran daring.
Nasib Negosiasi Masih Abu-abu
Meskipun persiapan telah dilakukan, nasib kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menemui kepastian. Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan pada Selasa (21/4/2026) bahwa belum ada delegasi Teheran yang berangkat menuju Pakistan.
“Sejauh ini, belum ada delegasi dari Iran yang berangkat ke Islamabad, Pakistan, baik itu delegasi utama maupun delegasi tambahan, primer maupun sekunder,” demikian pernyataan stasiun TV pemerintah yang membantah laporan lain. Mengutip pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya, stasiun TV tersebut menambahkan bahwa kehadiran Iran akan bergantung pada perubahan sikap dan posisi Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman. Ghalibaf, yang merupakan tokoh berpengaruh dan memimpin pembicaraan dengan AS dua pekan lalu, menyampaikan sikap ini dikutip dari AFP.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, dijadwalkan akan terbang ke Pakistan jika Iran memberikan konfirmasi untuk memulai perundingan putaran kedua. Sama seperti negosiasi sebelumnya, Vance akan didampingi oleh utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, serta menantu presiden, Jared Kushner.






