Global

Negara Ini Punya Ladang Gas Terbesar Kedua Dunia, tapi Sangat Bergantung ke China

Advertisement

Turkmenistan, negara yang dikaruniai cadangan gas alam terbesar keempat di dunia, justru menghadapi dilema strategis. Di tengah hamparan gurunnya, proyek raksasa di ladang gas Galkynysh menjadi simbol kemitraan erat dengan China, namun sekaligus mempertegas ketergantungan yang mendalam pada Negeri Tirai Bambu tersebut.

Meskipun Turkmenistan telah lama menyatakan ambisinya untuk mendiversifikasi ekspor gas ke Eropa dan India, kenyataannya China tetap menjadi investor utama yang mengucurkan dana besar untuk mengamankan cadangan gas raksasa itu. Hubungan ini dipertegas saat mantan Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov meresmikan fase baru pabrik Galkynysh pada pertengahan April. Ia menegaskan pentingnya kemitraan dengan Beijing.

“Negara kami menganggap China sebagai mitra strategis,” kata Berdymukhamedov, dikutip dari AFP, Selasa (21/4/2026).

Proyek Galkynysh, Jantung Kemitraan dengan China

Proyek perluasan di Galkynysh ini dipimpin langsung oleh China National Petroleum Corporation (CNPC), perusahaan milik negara China. Tujuan utamanya adalah meningkatkan produksi dan kapasitas penyimpanan gas untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke China. Menurut konsultan energi Inggris, Gaffney, Cline and Associates, Galkynysh merupakan ladang gas terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari ladang South Pars yang dimiliki bersama oleh Iran dan Qatar.

Kenyataan pahitnya, sekitar 90 persen ekspor gas Turkmenistan saat ini telah terserap oleh pasar China. Situasi ini memunculkan sebuah paradoks.

“Paradoks Turkmenistan adalah bahwa seiring dengan meningkatnya cadangan gas terbukti, negara ini telah memperoleh status sebagai raksasa gas, tetapi tidak memiliki kebebasan yang sebanding dalam memonetisasi cadangan tersebut,” jelas Abzal Narymbetov, seorang ahli di sektor energi Asia Tengah.

Narymbetov menambahkan, “Negara ini memiliki basis sumber daya yang sangat besar, tetapi infrastruktur ekspornya masih sangat bergantung pada jalur China.”

Sejarah Pergeseran dan Kerentanan Strategis

Sebelumnya, Turkmenistan mengekspor gas secara eksklusif ke Rusia hingga tahun 2009. Namun, perselisihan diplomatik dengan Moskow kala itu mempercepat pergeseran haluan ke Beijing. Jalur pipa gas Asia Tengah-China yang dibuka pada tahun tersebut telah menyalurkan sekitar 460 miliar meter kubik (bcm) gas alam.

Berdymukhamedov sendiri berambisi meningkatkan pengiriman tahunan gas ke China menjadi 65 miliar meter kubik. China, sebagai importir gas alam terbesar di dunia, memang berupaya mendiversifikasi sumber energinya, namun Turkmenistan menjadi pemasok yang sangat vital bagi mereka.

Narymbetov menyoroti ketidakseimbangan dalam hubungan ini. “Bagi Turkmenistan, China tidak tergantikan, sedangkan bagi China, Turkmenistan hanyalah salah satu dari beberapa pemasok,” tuturnya.

Advertisement

Ia menekankan, “Itulah mengapa ketergantungan pada pasar tunggal bukan hanya masalah perdagangan tetapi juga masalah kerentanan strategis.”

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Pihak berwenang Turkmenistan sejatinya masih berharap perluasan ladang Galkynysh dapat membuka peluang untuk jalur ekspor lain. Salah satunya adalah jalur pipa gas TAPI (Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, India).

“Selain jalur China, Galkynysh juga dipertimbangkan sebagai basis sumber daya untuk jalur pipa gas TAPI (Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, India) di masa depan,” ungkap seorang karyawan perusahaan milik negara Turkmengaz kepada AFP, yang memilih berbicara secara anonim.

Tujuan lainnya adalah meningkatkan ekspor ke Eropa melalui Laut Kaspia di bagian barat negara itu. Namun, untuk saat ini, Beijing tetap menjadi satu-satunya rute ekspor yang paling realistis.

Nasib Rute Lain Masih Tanda Tanya

Narymbetov menilai bahwa setiap fase baru pengembangan Galkynysh justru cenderung memperkuat dominasi pasar China, alih-alih mendiversifikasinya.

Rute TAPI sendiri masih menghadapi tantangan keamanan yang signifikan di Afghanistan, dan pembangunannya masih dalam tahap awal. Sementara itu, proyek pipa Trans-Kaspia yang diusulkan untuk mengangkut gas Turkmenistan melintasi Laut Kaspia ke Eropa, masih terhenti.

Belum ada kesepakatan yang jelas mengenai siapa yang akan membiayai proyek tersebut, atau kesepakatan gas jangka panjang yang dapat menjadikannya layak secara finansial. Delegasi Uni Eropa menyatakan, “Kami menyerahkan keputusan tentang potensi Pipa Trans-Kaspia kepada Turkmenistan, Azerbaijan, dan/atau pihak lain yang tertarik untuk berinvestasi secara finansial di dalamnya.”

Di dalam negeri, kemitraan dengan Beijing kini menjadi jalur ekonomi yang vital. Pihak berwenang Turkmenistan terus menampilkan Galkynysh sebagai sumber kemakmuran bagi seluruh negeri, meski realitas ketergantungan strategis tetap membayangi.

Advertisement