Sains

Dilema Ikan Sapu-sapu Jakarta: Antara Spesies Invasif dan Pembersih Limbah Alami

Advertisement

Ikan sapu-sapu, spesies asal Amerika Selatan yang kerap dianggap hama pengganggu ekosistem perairan, ternyata memiliki peran penting dalam menekan kadar pencemaran organik di sedimen sungai, khususnya di perairan Jakarta yang tercemar.

Triyanto, peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup, termasuk ikan sapu-sapu, memiliki fungsi dalam rantai transfer energi dan materi. Kemampuan ikan ini dalam memanfaatkan bahan organik dan pencemar menjadikannya bagian dari proses pengurangan sumber materi pencemar.

“Secara harfiah, semua makhluk hidup ini memiliki fungsinya. Dia ada bagian dari transfer energi atau transfer materi. Ikan sapu-sapu ini mampu memanfaatkan organik-organik dan bahan pencemar tersebut. Ini bagian dari mengurangi sumber materi pencemar,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Fungsi “Pembersih” Alami

Sesuai namanya, ikan sapu-sapu menjalankan fungsi pembersihan, baik di akuarium maupun di perairan alami. Di sungai, mereka memakan lumut dan kotoran yang menempel di pinggiran dan dasar perairan.

Karena peran ekologisnya ini, Triyanto menekankan pentingnya pengendalian, bukan pemusnahan. Ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap istilah “pemusnahan” ikan sapu-sapu.

“Jangan dimusnahkan ya, saya tidak sepakat dengan istilah memusnahkan, tapi kita mengendalikan karena dia pasti punya fungsinya. Yang perlu diwaspadai adalah ikan sapu-sapu ini jangan dikonsumsi,” tegasnya.

Potensi “Klekap” Pasca Penangkapan Massal

Fenomena menarik diantisipasi Triyanto pasca penangkapan massal ikan sapu-sapu oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menyoroti perlunya pemantauan kondisi perairan dalam lima bulan ke depan.

Tanpa kehadiran ikan sapu-sapu sebagai pemakan alga, populasi lumut di dasar sungai berpotensi meningkat drastis. Kondisi ini dalam istilah perikanan disebut “klekap”, yang sangat disukai oleh ikan sapu-sapu.

Advertisement

“Biasanya nanti lumut-lumut di dasar sungai itu akan banyak dan nanti mungkin akan kembali naik ke permukaan, itu kalau di bahasa perikanan namanya klekap. Klekap ini sangat digemari sama ikan sapu-sapu,” jelas Triyanto.

Ancaman Invasi di Perairan Indonesia

Persebaran ikan sapu-sapu di Indonesia kini mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Spesies invasif ini dilaporkan telah menguasai hampir 30 persen perairan di seluruh nusantara, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara dan Bali.

Berdasarkan data riset, 39 lokasi di Pulau Jawa telah teridentifikasi keberadaan ikan sapu-sapu. Wilayah Papua dan Maluku menjadi daerah yang diharapkan belum terinvasi oleh spesies ini.

“Ada 39 lokasi di Pulau Jawa bahkan sudah diinfokan terdapat ikan sapu-sapu. Yang belum ada informasi adalah di wilayah Papua dan Maluku. Mudah-mudahan belum sampai ke sana,” tambah Triyanto.

Keterbatasan Riset dan Ajakan Pemantauan

Meskipun BRIN belum memiliki riset khusus yang terfokus pada ikan sapu-sapu karena kendala pendanaan, tim Triyanto terus melakukan pemantauan distribusi spesies ini sebagai bagian dari riset komunitas ikan secara umum.

Triyanto mengajak media dan masyarakat untuk bersama-sama memantau kondisi sungai-sungai di Jakarta setelah populasi ikan sapu-sapu berkurang. Pemantauan ini penting untuk melihat apakah kualitas air mengalami perbaikan atau justru muncul masalah ekologi baru.

Advertisement