Sains

Pakar BRIN: Jangan Hanya Fokus Ikan Sapu-sapu, Ada 18 Spesies Invasif Mengintai Perairan Kita

Advertisement

Dominasi ikan sapu-sapu yang menggejala di perairan Jakarta menjadi sorotan tajam terhadap ancaman spesies asing invasif. Namun, para pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa upaya penanganan tidak boleh hanya terhenti pada pembersihan kanal-kanal ibu kota.

Triyanto, seorang peneliti di Pusat Riset Limnologi dan Air Tawar (PRLSDA) BRIN, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu hanyalah satu dari sekian banyak spesies asing yang telah menginvasi ekosistem perairan darat Indonesia. Melalui Kelompok Riset Produktivitas Ekosistem Perairan Darat, BRIN telah melakukan pemetaan mendalam terhadap keberadaan spesies-spesies tersebut.

“Supaya masyarakat, pemerintah, dan para pemerhati lingkungan tidak hanya fokus di ikan sapu-sapu ya. Karena ikan sapu-sapu ini hanya salah satu contoh dari sekian ikan invasif yang sebenarnya sudah ada di Indonesia,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

18 Spesies Asing Bersifat Invasif dari 50 Jenis yang Teridentifikasi

Publikasi ilmiah yang disusun oleh tim peneliti BRIN mengungkap fakta mengejutkan: tercatat total 50 jenis spesies asing (alien species) telah masuk ke perairan Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 jenis di antaranya telah teridentifikasi memiliki sifat invasif. Artinya, spesies-spesies ini tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga mendominasi dan mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.

Salah satu spesies yang kini menjadi ancaman serius selain ikan sapu-sapu adalah ikan Red Devil. Spesies ini dilaporkan telah menimbulkan kerusakan signifikan terhadap populasi ikan lokal di berbagai lokasi strategis.

Advertisement

“Kalau ikan lainnya mungkin sudah pernah mendengar istilah ikan Red Devil yang marak di Danau Toba, Waduk Jatiluhur, dan Waduk Cirata. Atau mungkin di perairan Indonesia yang lain seperti Danau Batur. Populasinya sudah juga meningkat di lokasi-lokasi tersebut,” jelas Triyanto.

Perlunya Antisipasi Menyeluruh dan Kebijakan Terintegrasi

Triyanto menekankan bahwa keberadaan jenis asing invasif (JAI) ini merupakan kasus yang sudah meluas dan memerlukan kebijakan pengendalian yang terintegrasi. Upaya penanganan tidak bisa hanya bersifat seremonial atau terbatas pada satu wilayah.

“Keberadaan ikan alien yang sifatnya invasif ini menurut kami harus segera diantisipasi atau dikendalikanlah populasinya. Jadi ikan sapu-sapu yang marak di Jakarta ini hanya salah satu bagian dari sudah adanya kasus terhadap penyebaran ikan invasif ini,” tambahnya.

Fenomena ikan sapu-sapu di Jakarta seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk segera merumuskan strategi nasional pengendalian ikan invasif. Tanpa langkah antisipasi yang terukur dan komprehensif, ikan-ikan lokal yang menjadi sumber ekonomi serta bagian dari kearifan lokal masyarakat di berbagai danau dan waduk di Indonesia terancam punah akibat kalah bersaing dengan spesies pendatang asing ini.

Advertisement