Jakarta menghadapi tantangan ekologis serius akibat dominasi ikan sapu-sapu yang diperkirakan mencapai lebih dari 60 persen di sejumlah perairan ibu kota. Meskipun upaya pembersihan massal telah gencar dilakukan, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada keberlanjutan program penangkapan. Tanpa kontinuitas, populasi ikan invasif ini dikhawatirkan akan kembali meroket.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, menekankan bahwa efektivitas penangkapan manual sangat ditentukan oleh intensitas dan rutinitas pelaksanaannya di lapangan.
“Menurut saya ini belum efektif ya, penangkapan manual harus dilakukan secara intensif dan rutin. Karena kalau hanya sekali dan sifatnya seremonial, tentu saja dalam waktu beberapa periode ke depannya, ikan sapu-sapu atau ikan lainnya yang sifatnya invasif itu akan berkembang kembali,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Tingkat reproduksi ikan sapu-sapu yang tinggi menjadi salah satu faktor utama kesulitan mengendalikan populasinya. Triyanto menjelaskan, satu ekor induk betina mampu menghasilkan antara 1.000 hingga 1.500 telur. Selain itu, sifat protektif induk jantan yang menjaga sarang dan anakannya turut berkontribusi pada tingginya tingkat keberhasilan hidup keturunan mereka.
“Alarm Ekologi” dan Pentingnya Restorasi Habitat
Keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah melimpah di perairan Jakarta sejatinya merupakan indikasi adanya masalah lingkungan yang lebih dalam. Triyanto menyebut fenomena ini sebagai “alarm ekologi”, yang mengindikasikan adanya pencemaran dan degradasi kualitas air.
“Ikan sapu-sapu ini adalah alarm ekologi buat lingkungan perairan di Jakarta atau di Indonesia yang mengalami pencemaran. Kita harus bertindak mengupayakan perbaikan kualitas air,” tegasnya.
Advertisement
Selain upaya perbaikan kualitas air, pemulihan habitat sungai juga menjadi elemen krusial dalam mengatasi masalah ini. Menurut Triyanto, keanekaragaman hayati tidak akan pernah pulih selama kondisi habitat hanya mendukung kelangsungan hidup spesies yang tangguh seperti ikan sapu-sapu. Restorasi habitat yang tepat sasaran diharapkan dapat mengembalikan biodiversitas lokal dan menciptakan keseimbangan ekosistem yang alami.
Memutus Rantai Penyebab: Peran Komunitas Hobiis
Triyanto juga menyoroti pentingnya menelusuri dan memutus akar permasalahan yang menyebabkan membludaknya populasi ikan sapu-sapu. Salah satu sumber utama masuknya spesies invasif ini ke ekosistem perairan adalah pelepasan yang disengaja maupun tidak disengaja oleh para pecinta ikan hias.
“Sumber sebabnya kan ikan sapu-sapu ini karena dari hobiis, dari para pemelihara untuk membersihkan akuarium. Kemudian karena itu sudah besar atau sudah tidak suka lagi, kemudian dilepas atau terlepas. Ini harus kita berikan edukasi kepada warga,” tambahnya.
Edukasi yang menyasar masyarakat, khususnya komunitas hobiis, dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir untuk mencegah masuknya spesies asing invasif ke dalam ekosistem lokal. Tanpa adanya kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang ikan peliharaan ke sungai, berbagai upaya penangkapan manual yang dilakukan pemerintah berisiko hanya menjadi siklus yang tak berujung.
Triyanto berharap agar upaya pengendalian ikan sapu-sapu di masa mendatang tidak hanya bersifat simbolis atau sporadis. Ia menekankan perlunya integrasi program pengendalian dengan kebijakan perbaikan kualitas limbah dan kampanye edukasi publik yang masif guna mencapai hasil yang berkelanjutan.






