Peringatan Hari Kartini dimaknai berbeda oleh berbagai kalangan. Presiden Direktur Manulife Indonesia, Lauren Sulistiawati, menekankan pentingnya perencanaan hidup yang matang bagi perempuan, terutama dalam menghadapi tantangan masa depan.
Menurut Lauren, warisan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mendorong perempuan untuk memiliki ruang belajar, bekerja, dan menentukan arah hidup, kini memiliki relevansi yang lebih mendalam. Jika di masa Kartini keberanian berarti membuka akses dan kesempatan, maka di era modern, keberanian juga mencakup tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan kesempatan tersebut.
“Pada akhirnya, kemandirian tidak hanya dibuktikan lewat pencapaian, tetapi juga lewat kesiapan menghadapi perubahan. Kesiapan ini menjadi bagian penting dalam memastikan perempuan tetap memiliki kendali atas arah hidupnya,” ujar Lauren dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).
Perencanaan Hidup sebagai Bentuk Keberanian Modern
Lauren Sulistiawati memandang bahwa perempuan modern tidak hanya dituntut untuk berperan aktif, tetapi juga harus siap menghadapi konsekuensi dari peran tersebut, termasuk kemandirian finansial dan kesiapan menghadapi risiko di masa depan. Keberanian ini, menurutnya, seringkali tidak tampak dalam keputusan besar, melainkan dalam disiplin sehari-hari.
Disiplin dalam memprioritaskan, membangun ketahanan, dan menjaga agar hidup terus bergerak maju dengan martabat yang terjaga, adalah bentuk keberanian yang menentukan arah hidup perempuan. “Keberanian ini bukan tentang langkah besar yang dramatis, melainkan tentang konsistensi berpikir lebih jauh—bagaimana menjaga pilihan hari ini agar tetap bermanfaat dan relevan di masa depan,” kata Lauren.
Keberanian perempuan seringkali tumbuh di ruang personal, seperti dalam keluarga dan rutinitas, saat keputusan penting harus diambil tanpa sorotan. Di sinilah nilai Kartini hadir secara kontekstual, yaitu menjaga keluarga tetap utuh ketika risiko datang dan memastikan kehidupan tetap berjalan dengan martabat yang terjaga ketika keadaan berubah.
“Keberanian itu tidak harus tampak sebagai perlawanan terbuka seperti di masa Kartini. Sebaliknya, tampil sebagai kejernihan untuk berpikir lebih jauh, serta melihat masa depan sebagai sesuatu yang perlu direncanakan dengan baik dan matang, bukan sekadar diharapkan,” tuturnya.
Pergeseran tujuan hidup dari sekadar berumur panjang menjadi hidup berkualitas menuntut perencanaan yang lebih matang sejak awal. “Jika pada masa Kartini perjuangan utama adalah membuka ruang untuk memilih, maka tantangan perempuan hari ini adalah memastikan pilihan itu tetap bertahan ketika hidup dijalani lebih panjang dan risikonya semakin kompleks,” imbuh Lauren.
Peran Penting Perempuan dalam Menjaga Keberlanjutan Hidup
Kebutuhan untuk menjaga pilihan hidup semakin nyata, namun panjang usia tidak otomatis diiringi kesiapan. Data Manulife Asia Care Survey 2025 menunjukkan, hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar mengantisipasi hidup yang lebih panjang, mencerminkan kesenjangan antara harapan hidup dan kesiapan.
Lauren menilai, perspektif makna hidup bergeser dari sekadar berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menjalaninya. Kesadaran ini menuntut keputusan yang lebih bijak sejak awal. “Dalam perjalanan hidup, keputusan tidak bisa bertumpu pada harapan semata. Apa yang dibangun hari ini akan menentukan ruang gerak di masa depan,” kata Lauren.
Keputusan yang tampak sederhana di satu fase kehidupan dapat menjadi penopang atau justru beban di fase berikutnya. Fondasi perlindungan yang dirancang secara sadar menjadi pembeda apakah seseorang dapat melangkah dengan pilihan atau harus menerima keterbatasan.
Bagi perempuan Indonesia, konteks ini semakin nyata karena mereka seringkali memegang beberapa peran sekaligus. Usia harapan hidup yang lebih panjang berarti lebih banyak fase dan transisi yang harus dikelola. “Peran dalam keluarga, tantangan kesehatan, serta kesinambungan pendapatan kerap saling bertaut. Karena itu, kekuatan perempuan tidak cukup hanya untuk bertahan hari ini, tetapi juga untuk menyiapkan hari esok,” ujar Lauren.
Menyimpan aset dalam bentuk kas dan tabungan memang memberikan ketenangan jangka pendek, namun belum tentu membentuk perlindungan yang memadai untuk jangka panjang. Di sinilah perbedaan antara merasa aman dan benar-benar siap menjadi nyata.
“Rasa aman memang penting, tetapi rasa aman saja tidak cukup. Kesiapan membutuhkan struktur yang dibangun secara sadar dan terukur agar ketenangan hari ini dapat bertahan ketika hidup bergerak ke fase yang tidak terduga,” imbuh Lauren.
Keberanian Berpikir ke Depan Melalui Perencanaan
Tantangan perencanaan hidup semakin kompleks ketika dikaitkan dengan kesehatan. Inflasi medis yang terus meningkat membuat biaya kesehatan kian sulit diprediksi dan berpotensi menggerus stabilitas finansial keluarga. Lauren menilai, faktor ini menjadi risiko penting yang perlu diantisipasi sejak awal.
Dalam hidup yang semakin panjang, risiko kesehatan bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan faktor yang dapat mengubah arah hidup. Tanpa perlindungan yang tepat, dampaknya bisa meluas, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga yang bergantung padanya.
“Di sinilah disiplin mengambil peran menjadi bentuk keberanian yang berpikir jauh ke depan. Membangun fondasi perlindungan sejak awal bukanlah sikap pesimis, melainkan tanggung jawab, cara merawat ketahanan keluarga, sekaligus mewariskan optimisme untuk masa depan,” kata Lauren.
Lauren menegaskan, kesiapan adalah bentuk keberanian yang paling relevan hari ini. Keberanian yang dibutuhkan adalah keberanian untuk tidak menyerahkan masa depan pada keadaan, melainkan menuntunnya lewat keputusan yang terukur sejak hari ini. Perlindungan, bagi banyak perempuan, justru menghadirkan kebebasan, seperti kebebasan untuk tetap berdaya, mengelola risiko kesehatan, dan memegang kendali atas keputusan hidup.
“Perlindungan bukan penghalang mimpi, melainkan pijakan agar mimpi tetap dapat diperjuangkan,” tuturnya.
Kartini mengajarkan bahwa keberanian perempuan bukan hanya tentang berani bermimpi, tetapi juga berani menjaga agar mimpi itu tetap mungkin untuk diwujudkan. Dalam konteks hari ini, keberanian itu tecermin dalam disiplin untuk menyiapkan fondasi perlindungan yang berkelanjutan, baik perlindungan kesehatan maupun finansial, agar perempuan dapat terus melangkah dengan tenang dan terarah.






