Penetapan Hari Keris Nasional pada 19 April menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi keris sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Upaya ini juga bertujuan mendefinisikan ulang persepsi masyarakat modern terhadap keris, agar tidak lagi terbungkus narasi yang keliru atau eksklusif.
Abdul Jawat Nur, seorang kolektor keris sekaligus akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan perlunya literasi keris yang merata di seluruh lapisan masyarakat. Ia berusaha menepis anggapan bahwa keris adalah benda yang menakutkan atau hanya untuk kalangan tertentu.
“Keris bisa untuk semua orang. Bahkan, perempuan dahulu juga memiliki keris. Jangan sampai ada masyarakat yang dengan awam mengatakan bahwa keris itu haram. Keris merupakan budaya adiluhung, terdapat nilai seni, historis dan ekonomi. Kita harus lestarikan,” ungkap Jawat, mengutip laman resmi UGM.
Anatomi Material: Perpaduan Unik Besi, Baja, dan Meteorit
Dari perspektif material, keris merepresentasikan kemajuan teknologi metalurgi yang dikuasai nenek moyang bangsa Indonesia. Jawat menjelaskan bahwa identifikasi keris dapat ditinjau dari material penyusunnya, yang umumnya terdiri atas perpaduan besi, baja, dan pamor.
“Secara kasat mata kita bisa melihat. Jika warnanya agak abu-abu itu baja, sedangkan yang hitam pekat itu besi. Sementara itu, bahan pamornya dari meteorit,” jelas Jawat.
Pamor, atau pola dekoratif pada bilah keris, yang berasal dari batuan meteorit ini tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga menjadi bukti kekuatan struktur bilah yang ditempa melalui proses yang rumit.
Transformasi Fungsi: Dari Senjata Menjadi “Ageman”
Memasuki era modern, fungsi keris telah mengalami transformasi yang signifikan. Jika di masa lalu keris diproduksi sebagai senjata perang jarak dekat, bahkan pernah dibuat dengan panjang satu meter untuk melawan pedang tentara Belanda, kini keris lebih berfungsi sebagai ageman atau benda yang memberikan sugesti positif bagi pemakainya.
Sebagai ageman, jenis keris yang dipilih sering kali disesuaikan dengan profesi pemiliknya. Jawat mencontohkan penggunaan keris Pandawa Cinarito oleh para dalang.
“Para dalang menggunakan keris Pandawa Cinarito, karena dipercaya mempunyai fungsi untuk melancarkan seseorang berbicara,” tegasnya.
Panduan Membeli dan Menjaga Autentisitas Keris
Menyikapi maraknya klaim mistis yang berlebihan dan kasus penipuan terkait keris, Jawat memberikan panduan bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih berhati-hati dalam memilih.
Memahami pakem dasar, seperti jumlah luk (lekukan) yang umumnya maksimal berjumlah 13 untuk standar lama, merupakan langkah awal yang penting. Ia berpesan agar publik tidak mudah terkecoh oleh cerita-cerita yang tidak masuk akal, terutama yang bertujuan menaikkan harga jual secara tidak wajar.
“Jangan begitu saja percaya dengan cerita-cerita yang aneh. Terlebih harganya yang dijual murah. Tidak mungkin sebuah keris, yang terdapat emas dan berlian, dijual seharga Rp 500.000,00. Baiknya beli ke kolektor keris saja, atau memesan langsung ke empu,” pungkas Jawat.
Melalui peringatan Hari Keris Nasional ini, diharapkan literasi mengenai senjata tradisional ini semakin menguat. Upaya ini juga bertujuan menjaga autentisitas keris dari praktik replikasi yang tidak bertanggung jawab, sekaligus merawat warisan dunia agar tetap relevan bagi masa depan.






