Aktor legendaris asal Hong Kong, Chow Yun Fat, yang diperkirakan memiliki kekayaan bersih lebih dari 1 miliar dolar Hong Kong atau sekitar Rp 2,1 triliun, tetap memilih gaya hidup sederhana di tengah gemerlap dunia hiburan. Alih-alih memamerkan kemewahan, Chow Yun Fat justru kerap terlihat menggunakan transportasi umum dan berbelanja di pasar tradisional, sebuah kontras yang membuatnya dijuluki sebagai “miliarder paling sederhana” oleh warga lokal.
Laporan media Hong Kong mengungkapkan bahwa bintang film ikonik seperti “God of Gamblers” ini memiliki aset properti yang signifikan, termasuk delapan properti dan satu bidang tanah di kawasan-kawasan elite seperti The Peak, Kowloon Tong, Prince Edward, dan Sai Kung. Nilai total portofolio propertinya diperkirakan mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat.
Salah satu aset terbesarnya adalah sebuah vila di Kowloon Tong yang dibeli pada tahun 1990 senilai 14,7 juta dolar Hong Kong (sekitar Rp 32 miliar). Kini, nilai vila tersebut diperkirakan telah melonjak hingga 200 juta dolar Hong Kong (sekitar Rp 437 miliar). Properti mewah lainnya di The Peak, yang dibeli seharga 128 juta dolar Hong Kong (sekitar Rp 280 miliar), bahkan menawarkan pemandangan laut yang memukau dan taman pribadi.
Kekayaan Melimpah, Gaya Hidup Membumi
Meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa, Chow Yun Fat justru dikenal dengan kebiasaannya yang sangat membumi. Di luar aktivitas syutingnya, aktor berusia 60-an ini sering terlihat berbaur dengan masyarakat umum.
Penampilannya di ruang publik sering kali sederhana. Ia kerap terlihat:
- Menggunakan bus dan kereta api sebagai moda transportasi sehari-hari.
- Berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional, berinteraksi langsung dengan para pedagang.
- Mengenakan pakaian yang tidak mencolok, bahkan terkadang hanya mengenakan sandal sederhana.
- Menikmati santapan di restoran-restoran kecil yang terjangkau.
- Masih menggunakan ponsel model lama, menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap tren teknologi terbaru.
Sikap rendah hati dan pilihan gaya hidupnya ini kontras dengan citra glamor yang sering melekat pada para selebritas papan atas, menjadikannya sosok yang unik dan dikagumi.
Sosok Rendah Hati yang Konsisten
Di usianya yang tidak lagi muda, Chow Yun Fat tetap menjaga kebugaran fisiknya dengan rutin melakukan aktivitas seperti jogging dan mendaki gunung di berbagai jalur alam Hong Kong. Konsistensinya dalam menjaga kesehatan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Lebih dari sekadar menjaga kesehatan, ia juga dikenal sangat ramah kepada penggemarnya. Banyak warga yang mengaku pernah bertemu dan berfoto dengannya tanpa merasakan adanya jarak atau kesan eksklusif yang biasanya ada pada figur publik ternama. Hal ini semakin memperkuat citranya sebagai pribadi yang membumi, meskipun telah meraih ketenaran global.
Tak hanya itu, ia juga dikenal memiliki pandangan hidup yang mendalam mengenai arti kekayaan. Chow Yun Fat pernah menyatakan niatnya untuk menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk tujuan amal. Baginya, uang hanyalah sebuah alat, bukan tujuan akhir dalam kehidupan.
Karier Panjang Sang Legenda
Lahir pada tahun 1955, Chow Yun Fat memulai perjalanan kariernya di industri hiburan pada era 1970-an melalui stasiun televisi TVB. Namanya mulai dikenal luas melalui serial drama populer seperti “The Bund”.
Namun, popularitasnya meroket menjadi ikon perfilman Asia ketika ia membintangi berbagai film legendaris yang mendunia, termasuk “A Better Tomorrow”, “Crouching Tiger, Hidden Dragon”, dan tentu saja “God of Gamblers”. Serangkaian karya berkualitas dan konsistensi kariernya selama bertahun-tahun telah menempatkannya sebagai salah satu aktor paling berpengaruh dalam sejarah perfilman Asia, bahkan hingga kancah Hollywood.
Kisah Chow Yun Fat menjadi bukti nyata bahwa kekayaan berlimpah tidak selalu harus diwujudkan dalam gaya hidup mewah. Di tengah hiruk pikuk industri hiburan yang seringkali identik dengan kemewahan, ia justru memilih untuk menjadi simbol kesederhanaan. Pilihan ini tidak hanya membuatnya tetap dekat dengan masyarakat, tetapi juga memastikan relevansinya lintas generasi.






