Tren

Trump Keluarkan Peringatan ke Iran, Ancam Ini jika Tolak Berunding

Advertisement

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran, menegaskan bahwa Teheran pada akhirnya akan bersedia bernegosiasi. Namun, Trump menambahkan ancaman bahwa jika Iran menolak tawaran tersebut, mereka akan menghadapi konsekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Mereka akan bernegosiasi. Jika tidak, mereka akan melihat masalah yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan program radio konservatif The John Fredericks Show. Pernyataan ini dilontarkan di tengah ketegangan yang masih tinggi antara kedua negara.

Trump menekankan bahwa kesepakatan yang diharapkan adalah perjanjian yang adil, dengan satu syarat mutlak: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Tidak ada akses, tidak ada peluang untuk itu. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi karena bisa menjadi kehancuran dunia,” tegas Trump, seperti dilansir Al Jazeera.

Presiden AS itu juga menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil Amerika Serikat terhadap Iran merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. “Kami tidak punya pilihan dalam hal Iran. Ini bukan soal pilihan, kami harus melakukannya,” katanya.

Iran Tegaskan Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan langsung dari pihak Iran mengenai pernyataan terbaru Trump. Namun, sebelumnya Iran telah secara tegas menyatakan penolakannya untuk melanjutkan perundingan jika dilakukan di bawah tekanan atau ancaman.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan sikap tersebut menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan pada Rabu (22/4/2026). “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” kata Ghalibaf.

Ghalibaf juga mengisyaratkan bahwa Iran telah mempersiapkan kemampuan militer baru jika perundingan gagal. Menurutnya, tekanan yang dilancarkan Trump, termasuk dugaan pelanggaran gencatan senjata, berpotensi mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan”.

Advertisement

“Trump berupaya mengubah meja negosiasi—dalam imajinasinya—menjadi ajang penyerahan atau pembenaran untuk kembali memicu perang,” ujarnya.

Akademisi Iran: Iran Siap Hadapi Kemungkinan Terburuk

Pandangan senada disampaikan oleh akademisi Iran, Zohreh Kharazmi, dari Universitas Teheran. Ia menilai bahwa Iran tidak menginginkan konflik berlanjut, namun tetap siap menghadapi kemungkinan terburuk.

“Trump sering mengeluarkan ultimatum, tetapi yang perlu dilihat adalah kondisi di lapangan. Iran tetap pada posisinya bahwa tidak ada negosiasi di bawah ancaman,” ujar Kharazmi kepada Al Jazeera.

Menurut Kharazmi, Iran merasa berada pada posisi yang lebih kuat dalam situasi saat ini. “Pemahaman di Iran adalah bahwa justru Trump yang membutuhkan negosiasi,” katanya.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus membayangi menjelang berakhirnya gencatan senjata. Di satu sisi, AS mendorong tercapainya kesepakatan dengan cepat, sementara Iran menuntut negosiasi yang setara tanpa adanya tekanan. Dengan posisi kedua belah pihak yang masih saling bertolak belakang, masa depan perundingan masih belum pasti dan berpotensi memicu ketegangan lanjutan jika tidak segera ditemukan titik temu.

Advertisement