YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul berjanji akan melakukan perbaikan sistem dan sarana di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sokowaten menyusul keluhan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Bantul terkait dampak pencemaran bau dan asap.
Keluhan ini disampaikan pihak sekolah yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi TPS3R. Bahkan, dugaan malaadministrasi pengelolaan TPS3R Sokowaten telah dilaporkan ke Ombudsman RI (ORI) Perwakilan DIY pada Senin (20/4/2026).
Kepala DLH Bantul, Bambang Purwadi Nugroho, menjelaskan bahwa TPS3R Sokowaten tidak melakukan pembakaran sampah. “TPS3R Sokowaten tidak melakukan pembakaran sampah karena tidak ada insinerator di situ, yang ada alat untuk mengolah sampah menjadi RDF,” ujarnya saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (20/4/2026).
Perbaikan Sistem dan Sarana TPS3R
Bambang menambahkan, DLH Bantul akan melakukan perbaikan hanggar dan optimalisasi tenaga pengolahan sampah dengan memasang alat pengolah sampah. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi bau dan mencegah pencemaran lingkungan.
“Memang masih ada keluhan bau sampah, dan kami sudah lakukan langkah-langkah perbaikan sistem dan sarana di TPS3R tersebut secara bertahap sesuai harapan masyarakat,” kata Bambang.
Dampak Pencemaran Terhadap SLB Negeri 2 Bantul
Sebelumnya, SLB Negeri 2 Bantul bersama warga Sokowaten melaporkan dugaan malaadministrasi pengelolaan TPS3R ke Ombudsman RI Perwakilan DIY. Kuasa hukum warga dan SLBN 2 Bantul, Ahmad Hedar, mengungkapkan bahwa pencemaran asap pembakaran dan bau menyengat sudah berlangsung cukup lama, terutama sejak penutupan TPST Piyungan.
“Bapak ibu dari warga Sokowaten dan juga SLB Negeri 2 Bantul merasa terdampak. Di SLBN 2 Bantul bahkan sudah muncul gejala-gejala penyakit pernapasan,” ujar Hedar di Kantor ORI DIY.
Pencemaran ini berdampak signifikan pada proses belajar mengajar. Bau sampah yang tercium setiap hari memaksa satu ruangan praktik tata boga harus dikosongkan karena tidak layak digunakan. Selain polusi udara, warga sekitar juga melaporkan dugaan pencemaran air bersih. Sejumlah sumur warga dilaporkan berbau dan tidak dapat digunakan.
“Sumur warga di sekitar TPS itu sudah sangat bau, tidak bisa dipakai. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, warga harus membeli di toko,” imbuh Hedar.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SLBN 2 Bantul, Sudarmana, membenarkan adanya masalah kesehatan yang dialami siswa dan guru. “Ada teman yang sakit asmanya makin parah karena dipicu asap dan bau. Ruang kerja saya juga paling dekat, saya sendiri mengeluh kaitan dengan pernapasan dua tahun terakhir,” ungkap Sudarmana.
Sudarmana juga menyayangkan tidak adanya sosialisasi awal terkait pendirian TPS3R. Pihak sekolah mempertanyakan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) mengingat lokasi pengolahan sampah yang sangat dekat dengan institusi pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.






