Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengapresiasi kecepatan pembangunan hunian sementara (huntara) di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Kunjungan pada Senin (20/4/2026) itu menunjukkan kemajuan signifikan dalam dua bulan terakhir, mengubah lahan kosong menjadi hunian yang layak bagi penyintas bencana banjir dan tanah longsor akhir Desember 2025.
“Saya datang dua bulan lalu bersama Pak Bupati dan Pak Wagub, saat itu lokasi ini masih tahap awal. Sekarang sudah berubah total. Ini luar biasa,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Ia mengaku terkejut melihat transformasi tersebut.
Faktor Kunci Keberhasilan Pembangunan Huntara
Menurut Tito, salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan huntara di Tunyang adalah ketersediaan lahan yang memadai. Dukungan pemerintah daerah, khususnya Bupati Bener Meriah, dalam menyediakan lahan datar sangat membantu proses pembangunan yang cepat.
“Di banyak daerah, mencari lahan datar untuk huntara sangat sulit karena kondisi perbukitan. Di sini, lahan sudah siap sehingga pembangunan bisa cepat dilakukan,” jelasnya.
Huntara di Desa Tunyang tidak hanya dibangun dengan cepat, tetapi juga dinilai memenuhi standar kenyamanan bagi penghuninya. Permukaan tanah yang relatif datar dan berbatu membuat area hunian tidak becek, bahkan saat hujan. Akses jalan di dalam kawasan pun telah diperkeras untuk memudahkan mobilitas warga.
“Penataan seperti ini penting karena huntara bukan hanya tempat tinggal sementara, tetapi juga ruang hidup yang harus layak,” ujar Tito.
Kualitas Fisik dan Fasilitas yang Manusiawi
Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) itu menambahkan bahwa kualitas fisik bangunan huntara di lokasi tersebut telah memenuhi standar dasar hunian. Setiap unit dilengkapi fasilitas pendukung kebutuhan sehari-hari, sementara fasilitas umum dibangun secara terintegrasi.
Ketersediaan dapur umum, toilet, kamar mandi, ruang berkumpul, hingga tempat ibadah menunjukkan bahwa pembangunan huntara mengarah pada konsep hunian yang manusiawi dan berkelanjutan. Ruang terbuka seperti area bermain anak dan fasilitas olahraga turut memperkuat fungsi sosial kawasan.
Tito menilai, model pembangunan di Tunyang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain, terutama yang memiliki tantangan geografis. Namun, ia menegaskan bahwa huntara bersifat sementara dan pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan hunian tetap (huntap).
“Kami ingin memastikan selama di huntara, masyarakat tetap tinggal di tempat yang layak, sambil menunggu huntap selesai dibangun,” kata Tito.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari evaluasi lapangan untuk memastikan pembangunan huntara tidak hanya cepat, tetapi juga berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan jangka pendek serta pemulihan jangka panjang masyarakat terdampak bencana.






