Megapolitan

Pengamat Soroti Risiko Beli Emas Antam Lewat Jastip: Harga Tak Wajar dan Kelangkaan

Advertisement

Fenomena jasa titip (jastip) pembelian emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) semakin marak di tengah tingginya minat masyarakat terhadap logam mulia. Namun, di balik tren ini, para pengamat mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari potensi distorsi harga hingga keputusan pembelian yang didorong oleh rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO).

Pengamat ekonomi M Rizal Taufikurahman menilai lonjakan minat terhadap emas Antam yang melebihi ketersediaan di jalur distribusi ritel resmi telah menciptakan ketidakseimbangan pasar. “Fenomena ini mencerminkan adanya mismatch antara lonjakan permintaan dan keterbatasan distribusi ritel,” ujar Rizal saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa kemunculan jastip merupakan respons pasar yang rasional terhadap keterbatasan akses barang. Pihak-pihak yang memanfaatkan celah ini, termasuk dengan cara mengantre dan menjual kembali barang, berpotensi mendapatkan keuntungan.

Potensi Distorsi Harga dan FOMO

Namun, Rizal mengingatkan bahwa praktik jastip berpotensi menciptakan distorsi harga. Ketika pembelian emas terkonsentrasi pada pelaku tertentu dan dijual kembali dengan markup, harga yang terbentuk tidak lagi sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental emas, melainkan juga “rente” dari akses yang terbatas.

Dalam kondisi normal, margin harga emas ritel relatif tipis. Adanya tambahan biaya jasa dari jastip secara langsung dapat mengurangi potensi keuntungan investasi bagi pembeli.

Lebih lanjut, Rizal menyoroti bahwa banyak keputusan pembelian emas saat ini tidak didasarkan pada perhitungan rasional, melainkan dorongan tren. “Dalam banyak kasus, keputusan pembelian didorong oleh FOMO, bukan valuasi, sehingga risiko overpaying menjadi tinggi,” katanya.

Praktik jastip juga dinilai dapat menciptakan kelangkaan semu di pasar. Penyerapan stok oleh pelaku jastip membuat ketersediaan barang bagi konsumen umum terbatas, menimbulkan persepsi bahwa emas sulit diperoleh. Kondisi ini kemudian dapat mendorong kenaikan harga di pasar sekunder dan menciptakan bias harga yang tidak efisien, merugikan konsumen ritel yang membeli dengan harga lebih tinggi dari nilai wajarnya.

Rizal menyarankan masyarakat untuk tetap membeli emas melalui kanal resmi dan menghindari biaya tambahan yang tidak perlu. Ia menegaskan bahwa emas tetap merupakan instrumen lindung nilai yang baik, namun strategi pembelian harus dilakukan secara disiplin dan tidak terburu-buru mengikuti tren.

Kisah Para Pelaku Jastip

Di tengah peringatan tersebut, praktik jastip terus berkembang karena menjawab kebutuhan masyarakat urban yang memiliki keterbatasan waktu. Kiki (25), seorang warga Jakarta Timur, mengaku mulai menjalankan jastip emas Antam sejak awal 2025.

“Banyak yang pengin beli Antam resmi, tapi mereka enggak punya waktu buat antre. Akhirnya pada nyari jastip,” kata Kiki saat dihubungi.

Ia menjelaskan bahwa antrean di butik Antam kerap membeludak pada pagi hari, terutama ketika stok emas dengan gramasi kecil tersedia. Jika datang terlambat, peluang mendapatkan barang sangat kecil. “Kalau lagi ramai, kita harus datang pagi banget. Kalau datang siang biasanya sudah habis, terutama gram kecil,” ujarnya.

Kiki menyebut gramasi kecil seperti 1 gram dan 2 gram paling banyak dicari karena lebih terjangkau dan cocok untuk investasi bertahap. Untuk mengelola pesanan, ia menerapkan sistem slot. “Saya biasanya buka slot. Misalnya cuma terima 10 order dulu. Kalau kebanyakan, nanti kalau stok enggak dapat malah jadi masalah,” tuturnya.

Sebagai bentuk komitmen, Kiki mewajibkan uang muka (DP) bagi pelanggan baru. “Minimal Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Karena saya pernah kejadian barang sudah dapat, customer malah hilang,” katanya.

Advertisement

Keuntungan yang diperoleh Kiki berkisar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per keping, dan bisa naik hingga Rp 150.000 saat stok sulit. Meski menjanjikan, ia menegaskan bahwa jastip bukan sumber penghasilan besar yang stabil. Kiki menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pelanggan dengan selalu memberikan nota pembelian, foto nomor seri, serta dokumentasi video.

Cerita serupa datang dari Shila (27), yang memulai jastip pertengahan 2024. Awalnya, ia hanya membantu teman kantor yang tidak sempat antre di Butik Antam TB Simatupang. “Lama-lama malah banyak yang nitip,” kata Shila.

Ia menyebut pesanan meningkat ketika harga emas sedang turun atau stabil, mendorong banyak orang membeli gramasi kecil sebagai investasi bertahap. Namun, keterbatasan stok membuat proses pembelian tidak bisa dilakukan sekaligus. “Kadang kita harus datang sampai tiga hari berturut-turut biar pesanan terpenuhi,” ujarnya.

Shila menggunakan sistem pre-order dengan DP untuk memastikan pelanggan tidak membatalkan pesanan. Pasar utamanya berasal dari lingkungan terdekat. “Paling banyak dari teman kantor sama tetangga. Jadi sudah saling kenal,” katanya.

Keuntungan jastip Shila berasal dari biaya jasa antre, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 80.000 per keping, dan bisa mencapai Rp 100.000 saat stok sulit. Penghasilannya fluktuatif, berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan saat permintaan tinggi. Untuk keamanan transaksi, Shila lebih sering menggunakan metode cash on delivery (COD) dan selalu memberikan bukti pembelian serta dokumentasi barang.

Konsumen Membeli Waktu dan Kepraktisan

Dari sisi konsumen, jastip dilihat sebagai solusi praktis di tengah keterbatasan waktu dan ketidakpastian stok. Mutia (32), karyawan swasta di Jakarta Timur, mengaku rutin membeli emas melalui jastip karena tidak memungkinkan antre sejak pagi.

“Saya kerja dari pagi sampai sore. Kalau harus antre dari subuh, enggak sanggup. Belum tentu juga dapat,” ujar Mutia.

Ia menyadari harga melalui jastip lebih mahal, namun menganggap selisih tersebut sebagai biaya jasa. “Kalau selisih Rp 50.000 sampai Rp 100.000 saya masih oke. Itu kan bayar jasa orang antre,” katanya.

Ayu (28), ibu rumah tangga di Bekasi, memilih jastip karena tidak bisa meninggalkan anak untuk mengantre. Ia merasa lebih aman karena jastiper yang digunakan adalah tetangganya sendiri. “Jadi saya percaya, soalnya orangnya jelas dan setiap hari ketemu,” ujar Ayu.

Sementara itu, Tisna (37) mengaku kapok membeli langsung di butik setelah beberapa kali kehabisan stok. “Pas giliran, gram kecilnya habis. Akhirnya saya cari jastip saja,” kata Tisna.

Nadya (30), pelaku UMKM, menilai jastip sebagai solusi agar tetap bisa berinvestasi tanpa mengganggu aktivitas usaha. Namun, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian. “Kalau emas saya harus lihat dulu barangnya. Minimal ada nota butik sama sertifikatnya,” ujar Nadya.

Kompas.com telah menghubungi Manager Corporate Secretary ANTAM Ardian Ganang untuk meminta keterangan resmi terkait fenomena ini, namun hingga berita ini ditayangkan belum mendapatkan respons.

Advertisement