Penasihat urusan internasional Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Akbar Velayati, melontarkan peringatan mengenai potensi nasib Selat Malaka yang bisa serupa dengan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pengumuman Iran mengenai penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026).
Velayati menegaskan bahwa keamanan Selat Malaka, selain Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, saat ini berada di bawah perlindungan kekuatan Iran dan mitra strategisnya. Ia juga memperingatkan bahwa ketegangan yang timbul di Selat Hormuz berpotensi memicu efek berantai ke wilayah lain di dunia, secara implisit menyoroti urgensi keamanan jalur pelayaran internasional.
Selat Malaka: Jalur Krusial Perdagangan dan Energi Global
Pernyataan Velayati menyoroti posisi Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis dalam sistem perdagangan dan energi global. Selat sempit yang memisahkan Pulau Sumatera, Indonesia, dengan Semenanjung Malaysia ini merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia.
Selama berabad-abad, Selat Malaka telah menjadi titik pertemuan perdagangan antara Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Asia Timur. Hingga kini, jalur ini tetap vital bagi arus energi dan barang global.
Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, pengelolaan Selat Malaka, termasuk keselamatan navigasi, menjadi tanggung jawab bersama antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Beberapa alasan menjadikan Selat Malaka sebagai titik krusial pelayaran global antara lain:
- Volume Perdagangan Besar: Berbeda dengan Selat Hormuz, Selat Malaka berfungsi sebagai jalur perdagangan yang lebih luas, memfasilitasi pergerakan pasokan energi, barang manufaktur, elektronik, dan komponen industri. Volume perdagangan di lokasi ini sangat besar, termasuk aliran minyak global.
- Jalur Penting bagi Perekonomian Asia Timur: Selat Malaka merupakan jalur vital bagi perekonomian Asia Timur, khususnya Tiongkok, yang sangat bergantung pada jalur ini untuk impor energi. Ketergantungan ini dikenal sebagai “Dilema Malaka”.
- Posisi Strategis: Dari sudut pandang strategis dan militer, lebar titik-titik penting di Selat Malaka menjadikannya potensi hambatan sekaligus titik tawar dalam skenario konflik. Namun, perluasan peran negara tertentu di Selat Malaka harus mempertimbangkan lanskap regional yang kompleks.
- Titik Kumpul Komoditas: Pelabuhan di sepanjang Selat Malaka menjadi tempat berkumpulnya beragam komoditas perdagangan, mulai dari rempah-rempah, tekstil, hingga keramik dan kain sutra.
- Perubahan Arah Angin: Terletak di garis khatulistiwa, Selat Malaka memungkinkan terjadinya perubahan arah angin yang teratur, sangat penting bagi dunia pelayaran. Sejak dulu, kapal-kapal sering berkumpul di pelabuhan Selat Malaka untuk menunggu kondisi angin yang menguntungkan. Pada abad ke-15, ratusan pedagang dari berbagai belahan dunia berkumpul di Malaka untuk melakukan transaksi jual beli.
Perbedaan Dinamika Geopolitik Antara Selat Malaka dan Selat Hormuz
Meskipun Selat Malaka merupakan jalur krusial bagi distribusi global, Direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, Hu Bo, berpendapat bahwa Selat Malaka tidak akan bernasib sama dengan Selat Hormuz.
“Dinamika geopolitik di Asia Tenggara berbeda dari yang ada di Hormuz, dan Selat Malaka kemungkinan besar tidak akan menghadapi gangguan seperti yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Hu Bo, dikutip dari The Daily Star.
Menurut Hu, ketiga negara pesisir Selat Malaka (Indonesia, Malaysia, dan Singapura) bersama-sama mengawasi keamanan dan navigasinya. “Kemungkinan kecil negara-negara pesisir akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” katanya.
Hu Bo menambahkan bahwa Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur maritim dari negara-negara Teluk yang kaya minyak. Sebaliknya, Selat Malaka memiliki potensi alami yang didukung oleh lokasi geografisnya, serta potensi jalur alternatif seperti Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar di sekitar kepulauan Indonesia.
Meskipun demikian, Hu Bo mengakui bahwa krisis di Selat Hormuz diperkirakan akan meningkatkan kesadaran global tentang keamanan titik rawan maritim. “Selat Malaka dan Selat Hormuz sebenarnya tidak bisa dibandingkan, tetapi isu Hormuz telah membuat dunia mulai memikirkan kembali keamanan jalur pelayaran,” pungkasnya.






