Global

Iran Diduga Salah Tembak Saat Serang 2 Kapal India di Selat Hormuz

Advertisement

NEW DELHI – Dua kapal tanker berbendera India, Jag Arnav dan Sanmar Herald, dilaporkan menjadi korban insiden penembakan oleh militer Iran di Selat Hormuz pada Sabtu, 18 April 2026. Sejumlah analis menduga kuat bahwa peristiwa ini merupakan kasus salah sasaran, bukan serangan yang disengaja terhadap India.

Ketegangan militer yang tinggi dan situasi membingungkan di Selat Hormuz disebut menjadi faktor utama terjadinya insiden tersebut. Jalur pelayaran di selat yang sempit itu memang diketahui sangat padat, sebagaimana dilansir SCMP pada Selasa, 21 April 2026.

Para analis menilai, penembakan tersebut tidak mungkin direncanakan secara sengaja. Hal ini mengingat India bukanlah negara lawan Iran. Sebaliknya, New Delhi diketahui masih menjalin hubungan kerja dengan Teheran, termasuk melanjutkan pembelian minyak melalui pengecualian sanksi dari Amerika Serikat.

Tekanan Militer dan Kesalahan Kalkulasi

Priyajit Debsarkar, seorang penulis yang berbasis di London, menggambarkan insiden di Selat Hormuz sebagai akibat dari situasi yang tidak terkendali. “Selat Hormuz sangat padat dan banyak hal terjadi,” ujarnya.

Debsarkar menambahkan, personel penjaga Iran kemungkinan berada di bawah tekanan yang besar dan bereaksi terhadap kekuatan luar biasa yang digunakan oleh pihak lawan. “Mereka bereaksi terhadap kekuatan luar biasa yang digunakan oleh lawan mereka,” kata Debsarkar.

Militer Iran, menurut analisisnya, kemungkinan besar melakukan kesalahan penilaian situasi saat memutuskan untuk melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal India tersebut.

Kurangnya Koordinasi Internal Diperkuat

Dugaan salah tembak ini semakin menguat dengan adanya indikasi ketidaksinkronan informasi di internal Iran. Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, telah memberikan jaminan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka bagi kapal-kapal India tanpa dikenakan biaya.

Yashwant Deshmukh, seorang komentator politik independen, menyoroti adanya masalah koordinasi di lapangan. “Insiden ini menunjukkan adanya kurangnya koordinasi antara kepemimpinan sipil dan militer Iran, atau kegagalan kendali di lapangan, daripada upaya sengaja untuk meningkatkan ketegangan dengan India,” kata Deshmukh.

Advertisement

Ia menekankan bahwa meskipun situasi sedang tegang, India dan Iran terus berupaya menjaga hubungan yang baik. Insiden penembakan ini menjadi bukti nyata dari peringatan yang selama ini dikhawatirkan oleh para ahli hubungan internasional.

Militerisasi Kawasan Picu Risiko

Profesor hubungan internasional dari King’s College London, Harsh Pant, menyatakan bahwa insiden ini merupakan dampak dari militerisasi kawasan. “Ini adalah hal yang selama ini diperingatkan oleh India: bahwa saat selat tersebut dimiliterisasi, ada bahaya munculnya berbagai salah kalkulasi,” tegas Pant.

Ketika sebuah jalur perairan internasional menjadi medan militer, risiko salah sasaran terhadap kapal sipil menjadi sangat tinggi. Hal ini menjadi kekhawatiran utama para ahli hubungan internasional.

Dampak Ekonomi dan Logistik

Bagi India, insiden “salah tembak” ini tetap menimbulkan dampak serius. Negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak, di mana 85 persen kebutuhan energinya dipenuhi melalui jalur laut tersebut.

Secara ekonomi, kekacauan di Selat Hormuz telah memberikan guncangan pada pasar global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak 5,7 persen pada hari Senin. Terhambatnya jalur pelayaran ini juga menyebabkan jutaan barel minyak dan gas alam cair (LNG) terjebak di dalam Teluk.

Priya Walia, Vice President Commodity Markets-Oil di Rystad Energy, menjelaskan bahwa situasi ini telah mengubah peta logistik energi secara signifikan. “Pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang memiliki minyak mentah, tetapi barel mana yang masih bisa bergerak, dengan biaya angkut, asuransi, dan premi politik berapa,” pungkas Walia.

Advertisement