Regional

Menunggu di Parkiran Kampus USU, Doa Kartini untuk Anak yang Kejar Mimpi Jadi Dokter

Advertisement

MEDAN, Kompas.com – Di tengah terik matahari yang menyengat di halaman parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), Kartini Berutu (44) duduk tegar, memantau ponsel di tangan anak bungsunya. Tangannya sesekali meraih kuaci, matanya tak lepas dari pintu ruangan tempat anak sulungnya, Yessiana Anak Ampun (18), tengah berjuang menyelesaikan ujian Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) pada Selasa (21/4/2026). Sudah satu setengah jam Kartini menanti, ditemani doa yang tak henti terucap.

Perjalanan menuju kampus hari itu merupakan bagian dari perjuangan panjang Kartini dan Yessiana. Mereka berjalan kaki dari rumah adik ipar di kawasan Berdikari, yang berjarak tak jauh dari FISIP USU. Sementara Yessiana sudah lebih dulu tiba di lokasi tes, diantar keluarganya dengan sepeda motor. Kartini sendiri bersama dua anaknya lainnya baru tiba di Medan pada Sabtu (18/4/2026) sore, setelah menempuh perjalanan lima jam menggunakan travel. Keputusan untuk merantau sementara waktu demi impian sang anak ini bukanlah perkara mudah.

Mimpi yang Terukir Sejak Dini

Yessiana, putri pertama Kartini, telah memendam cita-cita menjadi dokter sejak kecil. Setelah menamatkan pendidikan di SMAN 1 Salak, Yessiana sempat mencoba jalur prestasi dengan mendaftar ke Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk jurusan kedokteran hewan. Namun, kesempatan itu belum berpihak padanya.

“Kemarin dia coba ke Unpad, ambil dokter hewan, cuma gagal,” ujar Kartini, mengenang kegagalan pertama putrinya.

Meski begitu, semangat Yessiana tak pernah padam. Ia bangkit dan melanjutkan perjuangannya dengan mendaftar SNBT di USU. Kali ini, pilihan Yessiana tertuju pada jurusan Kedokteran Gigi dan Keperawatan. Keputusannya untuk terus mengejar mimpi di bidang medis ini tak terlepas dari persiapan matang. Selama setahun terakhir, Yessiana mengikuti bimbingan belajar intensif di kampung halamannya, sebuah investasi pendidikan senilai Rp 6 jutaan.

Advertisement

Kecemasan dan Dukungan Orang Tua

Keputusan Yessiana untuk menempuh pendidikan kedokteran sempat menimbulkan kecemasan di hati Kartini. Ia sadar betul bahwa biaya pendidikan kedokteran tidaklah murah. Sebagai seorang petani kopi, dengan suami yang berstatus guru PPPK, Kartini sempat khawatir penghasilan mereka tidak akan mencukupi jika Yessiana berhasil lolos.

“Itulah sempat berdebat kami,” ungkap Kartini.

Namun, tekad kuat Yessiana perlahan meluluhkan keraguan Kartini. Ia melihat kegigihan putrinya dalam meraih impian dan akhirnya memberikan dukungan penuh. Kini, yang bisa Kartini lakukan hanyalah memanjatkan doa terbaik agar Yessiana dapat melewati ujian SNBT dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

“Ya mau gimana pun itu mimpinya. Apa pun nanti tantangannya, kalau lulus, ya harus dihadapi. Mana tahu juga dapat beasiswa dari Pemda,” pungkasnya penuh harap.

Advertisement