Regional

Kisah Yeni, 15 Tahun Banting Tulang Sendirian Membesarkan Anak-anaknya

Advertisement

PEKANBARU, Kompas.com – Mentari belum sepenuhnya terbit di langit Pekanbaru, namun Yeni Wardani (54) telah menyibak embun pagi dengan sapu di tangannya. Gerakan berulang menyapu debu, daun kering, dan sisa aktivitas kota telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitasnya selama lebih dari dua dekade. Di balik setiap ayunan sapu, tersimpan kisah getir tentang kehilangan, keteguhan hati, dan perjuangan seorang ibu yang tak punya pilihan lain selain terus melangkah.

Hidup Yeni berubah total pada tahun 2011 ketika sang suami meninggal dunia. Sejak saat itu, ia harus memikul dua peran sekaligus: menjadi ibu dan tulang punggung keluarga bagi ketiga putri mereka. “Saya sekarang tinggal di rumah anak. Anak saya 3 orang, cewek semuanya,” ujar Yeni saat ditemui Kompas.com di Pekanbaru, Rabu (22/4/2026).

Dulu, keluarga mereka menghuni rumah kontrakan. Kini, Yeni menumpang di rumah salah satu anaknya, seiring dengan tumbuh kembang dan kemandirian mereka. Namun, perjalanan hidup itu tidak pernah mulus.

Pekerjaan Tanpa Henti

Sejak 2004, Yeni telah berprofesi sebagai penyapu jalan. Rutinitasnya dimulai dari pagi hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Upah yang diterimanya tetap, sebesar Rp 2 juta per bulan. “Saya kerja menyapu jalan sejak 2004 sampai sekarang. Gaji Rp 2 juta per bulan,” tuturnya.

Penghasilan tersebut seringkali tidak mencukupi, terutama ketika ketiga anaknya masih sepenuhnya bergantung padanya. Momen kehilangan suami meninggalkan luka mendalam. “Ya, kadang saya merasa sedih. Tapi, ya sudah nasib begini harus dijalani, harus bersyukur masih sanggup bekerja,” ungkap Yeni, sembari menekankan bahwa kesedihan tidak pernah membuatnya berhenti berjuang.

Menambal Kebutuhan di Sore Hari

Usai menyelesaikan tugas menyapu jalan, Yeni tidak lantas beristirahat. Di sore hari, ia beralih profesi menjadi tukang gosok pakaian di lingkungan tempat tinggalnya. “Saya nyapu jalan dari pagi sampai jam 12 siang. Pulang dari situ, sore-sore saya jadi tukang gosok pakaian orang. Kadang dikasih Rp 30.000, kadang Rp 50.000,” jelas Yeni.

Pekerjaan tambahan ini menjadi penopang penting, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak. Kini, beban tersebut sedikit terangkat karena dua dari tiga anaknya telah berkeluarga. Namun, satu putri bungsunya masih duduk di bangku kelas dua SMA, membuat perjuangan Yeni belum sepenuhnya usai.

Advertisement

Prioritas Pendidikan Anak

Bagi Yeni, pendidikan anak adalah hal yang tak dapat ditawar, meskipun harus menguras tenaga dan pikiran. “Kalau dibilang berat, ya berat sekali. Gaji yang ada dicukup-cukupkan saja. Makanya saya kerja sampingan buat nambah-nambah belanja sekolah anak. Belum lagi kebutuhan sekolahnya. SMA ini kan banyak pengeluaran,” ujarnya.

Setiap rupiah dihitung cermat, setiap tetes keringat dikerahkan demi memastikan putrinya dapat menuntaskan pendidikan. Perjuangan ini adalah wujud cintanya yang tak terhingga.

Inspirasi dari Kartini

Di tengah segala keterbatasan, Yeni tidak pernah mengenal kata menyerah. “Selagi saya kuat, saya terus berusaha,” tegasnya.

Momentum Hari Kartini memberinya ruang untuk merenungi kembali perjuangannya sebagai seorang perempuan. “Ibu Kartini kita kenal orang baik, pejuang dan pantang menyerah. Kita sebagai perempuan juga harus bisa mencontoh sosok beliau. Semangat beliau inilah yang jadi motifasi saya untuk menjadi penopang keluarga,” kata Yeni.

Bagi Yeni, perjuangan hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang spektakuler. Terkadang, ia hanya terwujud dalam langkah-langkah kecil: menyapu jalan di pagi buta, menggosok pakaian di senja hari, dan memastikan masa depan anaknya tetap cerah. Dari situlah, secercah harapan terus ia rajut, hari demi hari.

Advertisement