TEHERAN – Menjelang berakhirnya periode gencatan senjata, Iran mengklaim telah menyiapkan strategi atau “kartu baru” yang siap diluncurkan di medan tempur. Pernyataan ini dilontarkan oleh Ketua Parlemen Iran yang juga merupakan negosiator kunci Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui akun X miliknya.
Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada intimidasi dalam setiap proses diplomasi. Ia menyatakan, “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk mengungkap kartu-kartu baru di medan perang.”
Persiapan militer atau strategi baru yang disebut sebagai “kartu baru” ini diklaim telah dimatangkan selama dua pekan terakhir. Pernyataan tersebut merupakan respons Iran terhadap upaya Amerika Serikat yang dinilai mencoba menyudutkan Teheran melalui blokade ekonomi maupun politik.
Ghalibaf menilai Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan untuk memaksa Iran menyerah di meja perundingan. “Trump, dengan memaksakan blokade dan melanggar gencatan senjata, berusaha mengubah meja perundingan ini menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan kembali kobaran perang,” tegasnya.
Ketidakpastian Perundingan di Islamabad
Ancaman Iran ini muncul di tengah ketidakpastian perundingan putaran kedua antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan di Islamabad, Pakistan. Hingga kini, kedua belah pihak masih memberikan sinyal yang bertolak belakang mengenai rencana pertemuan tersebut.
Namun, seorang pejabat senior Pakistan mengindikasikan bahwa pembicaraan masih sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat. “Pertemuan tersebut bisa berlangsung besok atau lusa,” ujar pejabat Pakistan tersebut.
Batas Waktu Gencatan Senjata Hampir Habis
Sementara itu, waktu terus berjalan menuju berakhirnya masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan ini dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026) malam waktu Teheran.
Menjelang batas akhir tersebut, kedua negara justru saling melontarkan ancaman kesiapan perang. Presiden AS Donald Trump telah memberikan peringatan keras. Jika kesepakatan tidak tercapai hingga batas waktu habis, ia mengisyaratkan serangan militer akan kembali dimulai.
“Kami setuju untuk hadir (di perundingan Pakistan). Namun, jika gencatan senjata berakhir, maka banyak bom akan mulai meledak,” tegas Trump dalam wawancaranya dengan PBS News.






