Global

Bocoran Nuklir Korut Picu Amarah AS, Hubungan Intelijen Seoul-Washington Retak

Advertisement

Ketegangan mewarnai hubungan intelijen antara Amerika Serikat dan Korea Selatan menyusul dugaan kebocoran informasi sensitif terkait program nuklir Korea Utara. Akibatnya, Washington dilaporkan membatasi sebagian informasi intelijen satelit yang sebelumnya rutin dibagikan kepada Seoul.

Langkah pembatasan ini diambil Amerika Serikat setelah Menteri Unifikasi Korea Selatan, Chung Dong-young, mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengungkap informasi rahasia tanpa izin. Pernyataan tersebut merujuk pada dugaan Korea Utara mengoperasikan fasilitas pengayaan uranium di wilayah Kusong, sebuah langkah krusial dalam pengembangan senjata nuklir.

Namun, seorang pejabat militer Korea Selatan yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa kebijakan pembatasan informasi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kesiapan militer Negeri Ginseng. Ia menegaskan bahwa proses pengumpulan dan berbagi intelijen terkait aktivitas militer Korea Utara antara kedua negara tetap berjalan normal.

Fasilitas Nuklir dan Protes Washington

Pernyataan Menteri Chung di parlemen mengenai dugaan fasilitas pengayaan uranium di Kusong memicu protes keras dari Washington. Amerika Serikat menilai pernyataan tersebut mengungkap informasi yang berasal dari sumber intelijen mereka.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Chung Dong-young menyatakan penyesalannya jika pernyataannya ditafsirkan sebagai kebocoran informasi rahasia. Ia mengklarifikasi bahwa pernyataannya didasarkan pada informasi yang sudah tersedia untuk publik dan pernah disampaikan dalam sidang konfirmasi sebelumnya.

Advertisement

Dukungan terhadap Menteri Chung juga datang dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Lee menegaskan bahwa keberadaan fasilitas di Kusong merupakan fakta yang telah diketahui melalui kajian akademik dan laporan media. Ia menekankan bahwa klaim atau tindakan yang menganggap Menteri Chung membocorkan informasi rahasia dari Amerika Serikat adalah keliru.

Ancaman Nuklir Korea Utara yang Terus Meningkat

Korea Utara diketahui memiliki fasilitas pengayaan uranium di Yongbyon dan Kangson. Negara pimpinan Kim Jong Un itu terus berupaya mengembangkan program nuklirnya meskipun menghadapi berbagai sanksi internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebelumnya, Kepala badan pengawas nuklir PBB telah memperingatkan bahwa Pyongyang menunjukkan “peningkatan yang sangat serius” dalam kemampuannya memproduksi senjata atom.

Amerika Serikat sendiri menempatkan sekitar 28.500 personel militernya di Korea Selatan sebagai bagian dari komitmen pertahanan terhadap ancaman dari Korea Utara. Washington terus mengandalkan intelijen satelit dan berbagai metode lainnya untuk memantau aktivitas militer Pyongyang.

Advertisement