BENGKULU, KOMPAS.com – Keputusasaan warga tiga desa di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, atas kondisi jalan rusak parah sepanjang 13 kilometer mendorong mereka untuk mengambil langkah swadaya. Kesepakatan untuk menggalang dana secara patungan demi memperbaiki akses vital ini telah dikuatkan oleh tiga kepala desa.
Tiga desa yang terdampak langsung oleh kerusakan jalan ini adalah Desa Sinar Pagi, Desa Talang Empat, dan Desa Lubuk Resam. Menurut Kepala Desa Sinar Pagi, Riki Rikardo, inisiatif patungan muncul setelah warga tak lagi sanggup menghadapi medan berlumpur yang harus dilalui setiap hari.
“Selaku pemerintah desa kami diminta warga untuk segera bertindak, di mana jalan ini merupakan akses satu-satunya. Sehingga kami berinisiatif untuk melakukan pengecoran jalan yang paling parah tersebut dengan swadaya masyarakat,” ujar Riki Rikardo saat dihubungi via telepon, Rabu (22/4/2026).
Riki menjelaskan bahwa upaya pengajuan perbaikan jalan kepada pemerintah daerah telah berkali-kali dilakukan, namun belum membuahkan hasil. “Kami sudah usulkan dan kawal terus, namun belum juga ada respons. Sebagai akses vital jika dibiarkan akan berdampak ke semua sektor, daripada menunggu sesuatu yang belum pasti kami inisiatif untuk penggalangan dana dan swadaya saja,” tuturnya.
Skema Iuran yang Bervariasi
Surat kesepakatan yang ditandatangani para kepala desa menetapkan besaran iuran yang bervariasi, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 100.000. Skema iuran ini disesuaikan dengan kapasitas ekonomi warga.
Rinciannya, kepala desa, tauke sawit, dan pemilik kendaraan dikenakan iuran sebesar Rp 100.000. Sementara itu, perangkat desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menyumbang Rp 50.000, dan pemilik sepeda motor sebesar Rp 10.000. “Hasil pengumpulan dana nanti akan dilakukan pengecoran jalan sebelum Desa Talang Empat dalam dua pekan ke depan,” ungkap Riki Rikardo.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Kerusakan jalan yang parah ini tidak hanya menyulitkan mobilitas sehari-hari, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi sektor perekonomian warga. Jalur distribusi hasil pertanian menjadi terhambat, menyebabkan biaya angkutan melonjak.
Sektor pariwisata di Desa Lubuk Resam, yang memiliki potensi destinasi unggulan seperti goa alami dan pemandian air panas, juga ikut terpuruk. “Warga dalam kesusahan jalan rusak parah di Desa Lubuk Resam, Sinar Pagi dan Talang Empat. Wisata desa mati total akibat jalan buruk,” kata mantan Kepala Desa Lubuk Resam, Sudarmono.






