Tim beregu putri Indonesia dipastikan menghadapi ujian berat di Piala Uber 2026. Berdasarkan hasil undian yang digelar di Horsens, Denmark, Indonesia tergabung dalam Grup C bersama Taiwan, Kanada, dan Australia. Kualitas keempat negara dalam grup ini dinilai merata, sehingga sulit untuk memprediksi siapa yang akan mendominasi.
Situs resmi Badminton World Federation (BWF) bahkan menyebut Grup C sebagai grup yang paling sulit ditebak dalam perebutan dua tiket menuju fase gugur. Meskipun Indonesia dan Taiwan memiliki nama besar, potensi kejutan dari Kanada dan Australia tidak bisa diabaikan.
Potensi Kejutan dan Peran Baru
Taiwan tahun ini tidak lagi diperkuat pemain bintang Tai Tzu Ying yang telah memutuskan pensiun. Meski demikian, kekuatan tim Taiwan dinilai cukup merata di sektor tunggal dan ganda. Mereka mampu menunjukkan performa kompetitif di berbagai turnamen BWF World Tour, meskipun konsistensi masih menjadi catatan.
Situasi serupa juga dihadapi Indonesia yang banyak menurunkan pemain debutan pada edisi kali ini. Kehadiran Gregoria Mariska, yang menjadi andalan Indonesia di tunggal pertama dalam tiga edisi Piala Uber terakhir, dipastikan absen karena masih dalam pemulihan cedera.
Peran vital Gregoria kini akan diemban oleh Putri Kusuma Wardani. Tugas ini tentu tidak ringan, mengingat partai tunggal pertama seringkali menjadi penentu semangat juang seluruh tim. Kemenangan di partai pembuka dapat mendongkrak kepercayaan diri, sebaliknya kekalahan bisa memengaruhi fokus pemain lainnya.
Belajar dari Kegigihan Gregoria
Dalam menghadapi tekanan ini, Putri KW dapat mengambil inspirasi dari kerja keras Gregoria Mariska pada Piala Uber 2024. Kala itu, Indonesia yang tidak terlalu diunggulkan, berhasil melaju hingga babak final dan meraih medali perak. Capaian tersebut tidak lepas dari performa gemilang Gregoria yang selalu meraih kemenangan di partai pembuka sejak fase grup hingga semifinal.
Rekam Jejak Gregoria di Piala Uber 2024
Perjalanan Gregoria di Piala Uber 2024 dimulai sejak fase grup. Ia tercatat tampil dua kali melawan Hong Kong dan Jepang. Melawan Hong Kong, Gregoria berhasil mengalahkan Yeung Sum Yee dengan skor 21-15, 21-11. Kemudian, ia juga menaklukkan Akane Yamaguchi dari Jepang melalui pertandingan tiga gim yang ketat, 17-21, 21-17, 21-13.
Rentetan kemenangan Gregoria terus berlanjut di babak perempat final dan semifinal. Menghadapi Thailand di perempat final, Gregoria sukses mengamankan poin pertama untuk Indonesia setelah mengalahkan Ratchanok Intanon dalam dua gim langsung, 22-20, 21-18. Momentum positif itu berlanjut di semifinal melawan Korea Selatan, di mana ia kembali membuka kemenangan tim dengan menundukkan Sim Yu Jin, 21-13, 21-15.
Sayangnya, rentetan kemenangan Gregoria terhenti di partai final saat berhadapan dengan China. Ia harus mengakui keunggulan Chen Yu Fei dengan skor 7-21, 16-21, yang pada akhirnya berkontribusi pada kekalahan telak 0-3 tim Indonesia di partai puncak.






