Bola

Insiden Fadly Alberto, Psikolog Tekankan Pentingnya Keterampilan Mental

Advertisement

Insiden yang melibatkan Fadly Alberto Hengga dalam ajang Elite Pro Academy 2025-2026 menjadi sorotan, menyoroti pentingnya aspek mental dalam pembinaan sepak bola usia muda. Pemain Bhayangkara FC U20 itu kini menghadapi potensi sanksi akibat aksi tendangan kungfu dalam pertandingan melawan Dewa United di Stadion Citarum Semarang, Minggu (19/4/2026).

Di balik ketegangan kompetisi, kematangan emosi dan pembentukan karakter atlet muda kerap terabaikan. Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta, Kumala Windya R. M.Psi, menjelaskan bahwa usia sekitar 20 tahun merupakan fase transisi krusial menuju kedewasaan, di mana kontrol emosi belum sepenuhnya matang, terutama dalam situasi bertekanan tinggi.

“Respons ‘gampang panas’ seringkali bukan hanya soal kepribadian, tetapi juga keterampilan regulasi emosi yang belum terlatih secara optimal,” ujar Kumala Windya R., yang pernah bergabung dengan PSS Sleman pada tahun 2018, kepada KOMPAS.com.

Menurutnya, pembinaan atlet tidak boleh hanya berfokus pada kemampuan teknis di lapangan. Aspek mental perlu dibangun secara sistematis, mengingat dinamika dan tekanan yang tinggi dalam kompetisi usia muda. Tanpa bekal mental yang kuat, pemain rentan terpancing situasi dan kehilangan kendali.

“Atlet perlu dilatih mental skills seperti pengendalian emosi, fokus, dan kemampuan menghadapi provokasi,” imbuhnya.

Peran Psikolog dalam Pembinaan Mental Atlet

Keterlibatan psikolog dalam sistem pembinaan menjadi solusi penting untuk membentuk pemain yang tidak hanya berbakat, tetapi juga matang secara emosional. Kehadiran psikolog menjadi bagian integral dalam menciptakan ekosistem pembinaan pesepak bola muda yang sehat dan berkelanjutan.

“Melatih regulasi emosi, serta memberikan strategi coping yang adaptif di situasi kompetitif,” kata Kumala Windya R. Ia menekankan pentingnya teknik sederhana yang dapat diterapkan langsung di lapangan untuk mengendalikan diri dalam situasi pertandingan yang panas.

Advertisement

Kemampuan mengendalikan emosi ini menjadi pembeda antara pemain yang reaktif dan mereka yang mampu tetap tenang di bawah tekanan. “Atlet perlu memiliki strategi praktis saat terpancing, seperti jeda sejenak (pause), teknik pernapasan, dan mengalihkan fokus kembali pada permainan,” sambungnya.

Menanamkan Nilai Olahraga Sejak Dini

Kumala Windya R. menambahkan bahwa pelatih dan sistem pembinaan harus selaras dengan pendekatan psikologis agar tujuan pembinaan tercapai optimal. Kompetisi usia muda seharusnya menjadi ruang belajar prestasi sekaligus pembentukan karakter.

Pendekatan yang tepat akan menjadikan kompetisi bukan sekadar ajang menang atau kalah, melainkan ruang pembelajaran yang utuh bagi pemain muda. Selain aspek teknis dan mental, nilai-nilai dasar olahraga juga harus ditanamkan sejak dini.

Kumala menyoroti pentingnya nilai Olimpiade dalam membentuk karakter atlet. “Psikolog juga berperan dalam menanamkan nilai Olympism, yaitu excellence (berusaha maksimal tanpa mengorbankan etika), respect (menghargai lawan, wasit, dan diri sendiri), serta friendship (membangun relasi positif dalam sportivitas),” tutur psikolog yang pernah tergabung dalam Timnas Putri Indonesia pada tahun 2019 tersebut.

“Dengan penguatan tiga nilai ini, atlet muda tidak hanya berkembang secara performa, tetapi juga memiliki kematangan emosi yang membuatnya tidak mudah terpancing dalam situasi pertandingan,” pungkasnya.

Advertisement